Maafkan bila setiap saat tak ada yang bisa dirindu dariku, beku belum juga cair untuk mengucap maaf padamu Ibu. Seperti kata Fasih yang terkadang sering menusuk-nusuk nadi ku saat suaranya mulai terdengar melantunkan "Maaf, bu. Maaf karena kata maaf pun membisu dibibirku". Padahal aku tau disetiap desir doamu terdapat namaku yang sengaja Ibu buatkan jalan yang paling lebar menuju ijabah Tuhan.
Tuhan juga tau aku terisak saat ibu menyebutkan mimpiku dalam doa, sentuhan hangat tanganmu sebenarnya selalu berhasil membuat kedinginan senja di pelupuk-pelupuk mata papa sepertiku menjadi hangat kembali, malangnya, ke-sepuluh jari tanganku tak sanggup membalas belaianmu, terlalu berat bu.
Sudah kubilang akan kubangunkan istana di syurga nanti, tapi disini saja saat ibu masih bersamaku, maaf pun hanya secuil demi secuil yang terlontar, ingin rasanya peluh yang membuat ibu nampak kepayahan itu kuseka dengan cinta seperti yang ibu lakukan dulu padaku.
Maaf bu, selalu saja hanya aku yang tak bisa melambaikan sepucuk cinta untukmu, lengkingan suaramu karna aku juga semakin sering saja terdengar, sabarlah bu, aku memang yang tak tau malu menyusahkanmu sepanjang waktu.
Maaf bu, aku hanya bisa berdoa agar raga mu sehat selalu, agar cintamu tak lekang dengan waktu yang terus menderu. Maaf bu, aku hanya bisa memohon agar tak lagi membuatmu kepayahan, agar tak lagi muncul rintik basah kedua matamu karna aku bu, agar tak ada lengkingan amarah keluar dari bibir ibu karna aku.
Tunggu aku bu, tetaplah sehat untuk melihat Allah mengijabah doamu untukku, tetaplah sehat agar ibu bisa berceloteh bangga tentangku pada semua orang, tetaplah bersamaku bu, tetap menjadi perisai milikku walau maaf jarang terucap oleh bibirku.
Dec 21, 2012
Dec 16, 2012
Berbeda
Dikuncup mekar kutemukan helaan nafas panjang
Kubuka semua janji yang sedang tertutup pagi
Lega, tega beda tipis lah
Dipilinnya pagi yang sedang menjuntai malu
Tertutup embun si empu
Sudah, keburu surya beranjak naik nanti
Gandeng aku menuju peraduanmu itu
Yang katanya membuat mu lega tadi
Oh ini, dulu aku sudah pernah kesini
dengan si asa dan si harus
Berlanjut dengan tawa dan akhirnya tangis
Busuk, tempat ini busuk, kataku dulu
Eh, sekarang aku yang malu mau datang ke sini,
Kubuka semua janji yang sedang tertutup pagi
Lega, tega beda tipis lah
Dipilinnya pagi yang sedang menjuntai malu
Tertutup embun si empu
Sudah, keburu surya beranjak naik nanti
Gandeng aku menuju peraduanmu itu
Yang katanya membuat mu lega tadi
Oh ini, dulu aku sudah pernah kesini
dengan si asa dan si harus
Berlanjut dengan tawa dan akhirnya tangis
Busuk, tempat ini busuk, kataku dulu
Eh, sekarang aku yang malu mau datang ke sini,
Dec 1, 2012
Luruskan Niat Ukhti
Telah jatuh waktunya untuk mengerti, bagaimana sejengkal langkah dan sepotong kata bisa tumbuhkan cinta. Bila hati ini telah risau dan niat pun kadang tak lurus lalu apalagi yang bisa dibanggakan dari ibadah ini. Dari yang semula benar-benar untuk lebih dekat dengan yang maha dekat kini hanya untuk mendekatkan diri pada yang belum tentu terjadi.
Tentu kata-kata ini juga untuk menasehati diri sendiri, sering diri ini lalai dan keliru merajut helai demi helai niat, contohlah hal mudah seperti yang awalnya ingin shalat di masjid untuk mendapatkan pahala berlipat ganda ini cuma dapet dag-dig-dug saja lantaran niat sudah melenceng ke ikhwan yang disebelah sana. Mungkin itulah mengapa sebab Allah perintahkan lebih baik untuk shalat di rumah saja.
Malu, malu, malu jika dibandingkan dengan keteguhan niat seorang Arab Badui satu ini yang diceritakan bahwa dirinya diberi harta ghanimah dari Rasulullah seusai perang lalu Badui itu berkata "Untuk apa ini?", Rasulpun lebih kurang menjawab "harta rampasan bahagian mu dalam perang ini", taukah apa yang badui itu katakan "aku berperang bukan untuk ini.tapi aku berperang untuk di panah di sini(di tunjukkan lehernya),lalu syahid di jalan ALLAH". Dan diperang selanjutnya Badui itu syahid karena panah tepat diagian yang ia tunjukan kepada Rasulullah. Subhanallah bukan?
Dalam sebuah hadits Rasulullah juga berucap:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya...” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim).
Yuk ukhti yuk luruskan niat bareng-bareng yuk ingetin saya juga biar bisa masuk surga sama-sama :)
Tentu kata-kata ini juga untuk menasehati diri sendiri, sering diri ini lalai dan keliru merajut helai demi helai niat, contohlah hal mudah seperti yang awalnya ingin shalat di masjid untuk mendapatkan pahala berlipat ganda ini cuma dapet dag-dig-dug saja lantaran niat sudah melenceng ke ikhwan yang disebelah sana. Mungkin itulah mengapa sebab Allah perintahkan lebih baik untuk shalat di rumah saja.
Malu, malu, malu jika dibandingkan dengan keteguhan niat seorang Arab Badui satu ini yang diceritakan bahwa dirinya diberi harta ghanimah dari Rasulullah seusai perang lalu Badui itu berkata "Untuk apa ini?", Rasulpun lebih kurang menjawab "harta rampasan bahagian mu dalam perang ini", taukah apa yang badui itu katakan "aku berperang bukan untuk ini.tapi aku berperang untuk di panah di sini(di tunjukkan lehernya),lalu syahid di jalan ALLAH". Dan diperang selanjutnya Badui itu syahid karena panah tepat diagian yang ia tunjukan kepada Rasulullah. Subhanallah bukan?
Dalam sebuah hadits Rasulullah juga berucap:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya...” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim).
Yuk ukhti yuk luruskan niat bareng-bareng yuk ingetin saya juga biar bisa masuk surga sama-sama :)
Nov 29, 2012
Teruntuk Lelakiku Kelak
Teruntuk lelaki ku kelak
Apa kamu mengetahui aku sedang patah hati?
Atau kamu juga sedang patah hati sepertiku?
Teruntuk lelaki ku kelak.
Apa kamu tau Aku sedang belajar memasak untukmu?
Apa kamu tau Aku sedang belajar berdandan untukmu?
Apa kamu tau Aku belajar menjaga hatiku untukmu? Hanya untukmu.
Teruntuk lelaki ku kelak.
Yah aku sedang patah hati, tak usah disembuhkan, aku menantimu untuk menyambung patah ini.
Teruntuk lelaki ku kelak, aku menunggumu datang dengan jantan.
Tak sembarangan, aku ingin qobul yang menyatukan.
Apa kamu mengetahui aku sedang patah hati?
Atau kamu juga sedang patah hati sepertiku?
Teruntuk lelaki ku kelak.
Apa kamu tau Aku sedang belajar memasak untukmu?
Apa kamu tau Aku sedang belajar berdandan untukmu?
Apa kamu tau Aku belajar menjaga hatiku untukmu? Hanya untukmu.
Teruntuk lelaki ku kelak.
Yah aku sedang patah hati, tak usah disembuhkan, aku menantimu untuk menyambung patah ini.
Teruntuk lelaki ku kelak, aku menunggumu datang dengan jantan.
Tak sembarangan, aku ingin qobul yang menyatukan.
Nov 17, 2012
Duhh Gusti
"Rasah nangis Nem, aku karo koe "
Suminem bangun dengan heran, ini kenyataan?
puntung Djarum yang disedotnya tadi malam saja masih mengepul
terhenyak, Ngimpi!
Gemerlap cahaya yang menyapa rambut blonde bule masih liar berseliweran
beda dengan nasib Suminem, tiap lewat semua gelap
serasa PLN hanya milik para bule bukan kere
Gusti kirang nopo Suminem niki Gusti?
Kirang susah nopo to kulo niki Gusti?
Bondo mboten gadah Bopo nggih mboten gadah
Udud namung mungut saking sampah
Duhh Gusti, padaran Suminem niki mboten kiat
Mboten nyuwun burger utawi spagheti namung butuh Sekul Gusti
Nasib sampun di unda-undi pirang-pirang sasi
Suminem tampi Gusti.
Kawula tiang alit niki ngertos Gusti niku kang moho Agung,
Nanging napa Gusti mboten sayah?
Mboten sayah ngunda-undi nasib Suminem niki?
Suminem bangun dengan heran, ini kenyataan?
puntung Djarum yang disedotnya tadi malam saja masih mengepul
terhenyak, Ngimpi!
Gemerlap cahaya yang menyapa rambut blonde bule masih liar berseliweran
beda dengan nasib Suminem, tiap lewat semua gelap
serasa PLN hanya milik para bule bukan kere
Gusti kirang nopo Suminem niki Gusti?
Kirang susah nopo to kulo niki Gusti?
Bondo mboten gadah Bopo nggih mboten gadah
Udud namung mungut saking sampah
Duhh Gusti, padaran Suminem niki mboten kiat
Mboten nyuwun burger utawi spagheti namung butuh Sekul Gusti
Nasib sampun di unda-undi pirang-pirang sasi
Suminem tampi Gusti.
Kawula tiang alit niki ngertos Gusti niku kang moho Agung,
Nanging napa Gusti mboten sayah?
Mboten sayah ngunda-undi nasib Suminem niki?
Nov 9, 2012
Agar Ibu Tak Dimarahi Allah
Ku lihat letih di sela keriput ibu, matanya seperti menyembunyikan sesuatu dari ku, tapi apa itu? Sudahlah mungkin ibu akan diam bila kutanyai sekarang biar beliau istirahat dulu, aku beranjak setelah sesaat menjadi gadis penyambut bagi presiden di negara kecilku, kuseduhkan teh pahit digelas merah kesayangan ibu, beliau memang tak suka dengan teh manis "takut terbuai dengan manisnya gula padahal hidup tak semanis itu" kenangku tentang kata Ibu waktu kusodorkan teh kotak dalam perjalanan pulang dari Kudus.
Setelah mengambil mukena putih berbodir bunga yang dibuat dari benang berwarna merah jambu milik ibu aku menghantarkan teh buatanku, meletakkanya di meja bersandingan dengan mukena cantik tadi. "Sudah sholat ashar nduk?" ucap ibu lembut sambil memandangku, mata coklatnya masih saja menyembunyikan sesuatu. Angguk kan kecil ku menjawab pertanyaan ibu yang sejenak kemudian meninggalkanku menuju tempat wudhu lalu masuk menuju kamar untuk mengakhiri kebutuhannya akan Tuhan di waktu sore. "Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh, Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh" kudengar salam lirih ditemani nafas yang sesenggukan menandakan ibu telah selesai sholat.
Penasaran semakin membuat jantungku seperti balon yang terus dipompa namun tak tahu kapan ledakan besar akan terdengar karena letusannya, aku masih takut untuk menanyakan apa yang sebenarnya mata coklat ibu sembunyikan, sebenarnya presiden yang merangkap sebagai bendahara negara, menteri ekonomi, serta badan pengawas di negara kecil dirumahku ini tak pernah sekalipun berkata keras bahkan marah padaku, melihat senyuman ibu saat aku berbuat salah saja bulu kuduk ku sudah bergidik apalagi mendengar beliau marah tak bisa kubayangkan bagaimana remuknya hatiku.
Maghrib sudah menyapa lantunan adzan dari 'bilal' di surau samping gang juga menyeru syahdu, biasanya ibu sudah langsung menggandengku menuju suara itu dengan mukena cantik dan mukena hijau tosca milikku di bahunya, namun entah kenapa hari ini beliau memilih memenuhi kebutuhan akan Tuhan nya di waktu senja hanya dirumah saja. oh iya Ayahku sudah meninggal sejak umurku 3 tahun karena kecelakaan sehingga aku tak banyak mengenalnya, bukannya aku tak sayang dan begitu saja melupakan ayah, taukah aku yang sudah menginjak bangku kelas tiga SMP ini masih saja iri pada temanku yang dijemput ayahnya saat pulang sekolah. Menangis dan mengadu di pelukan ibu satu-satunya obat mujarab yang bisa kutelan untuk menghilangkan iri akan sosok seorang ayah.
"Ya Allah jadikan anakku menjadi wanita sholehah, menjadi muslimah yang selalu Engkau berkahi, yang disetiap helaan nafasnya tersebut namaMu, tak tau aku harus memasrahkannya pada siapa kalau bukan padaMu, dia satu-satunya pengisi kekosonganku di saat suamiku telah menghadapMu lebih dulu. Jadikan yang terbaik dari Mu itu milik putriku, kunamakan dia Khadijah agar julukan At-Thahirah yang berarti seorang wanita yang suci juga menjadikan buah hatiku seperti itu, kunamakan dia Khadijah seperti istri pertama Rasulku agar kepercayaannya, cintanya, dan pengorbanannya untukMu mengalir pada setiap tetes darah yang ada di tubuh putri kecilku, terakhir agar surga yang Engkau janjikan pada beliau yang masuk dalam golongan As-Sabiqun al-Awwalun bisa direngkuh oleh Khadijahku."
Tubuhku lemas mendengar doa ibu, tangis tak henti-hentinya meluncur menghujani pipiku, perasaan bersalah belum mampu membanggakan ibu berseliweran di hadapku, seakan mengejek dan hampir membuatku mati karena pilu. Apa itu yang membuat mata coklat ibu sesore ini menyembunyikan sesuatu dariku? Apa itu yang membuat ibu sesenggukan saat salam ashar tadi? Apa itu yang membuat ibu tak menggandengku menuju surau seperti biasanya?. Belum selesai aku meracau di dalam hati tentang tingkahku, ibu sudah keburu mengusap kepalaku, membelai helaian hitam rambutku, "Kenapa nduk?" suara lembut ibu membuat hatiku semakin bergetar, aku memeluk ibu, "maafin dijah buk, belum bisa jadi apa-apa buat ibuk, belum bisa banggain ibuk, belum bisa bawa ibuk ke Mekkah buat meluk ka'bah, maafin Dijah buk Dijah masih nakal masih suka buat ibuk khawatir" suaraku ikut bergetar seperti hatiku membuat suaraku tak jelas saat mengungkapkan semua permintaan maafku pada ibu, tangispun makin membuat baju ibu basah dengan air mataku.
Dibelainya pipiku untuk menyeka rintikkan tangis yang masih saja jatuh dari dua kelopak mata bulatku, "gak pa pa nduk, ibuk yakin Dijah bisa buat ibuk bangga kayak kata Dijah dulu, ibuk cuma khawatir Dijah gak suka lagi sama adzan tapi lebih suka sama lagu cinta, lebih milih liat kartun daripada sholat sama ibuk, ibuk juga khawatir Dijah gak suka sama gamis dan jilbab yang dibeliin ibuk tapi lebih suka sama hot pants yang bisa bikin Dijah gak disayang lagi sama Allah dan bikin ibuk dimarahin sama Allah." masih dengan sesenggukkan aku berjanji pada ibuk agar jadi anak yang disayang oleh Allah sehingga ibu tak perlu kena marah Allah karena Dijah.
Gamis dan jilbab pemberian ibu sudah kutanggalkan belasan tahun lalu, kini kugantikan dengan yang lebih besar hasil pemberian suamiku, suara adzan juga masih kuhampiri saat aku mendengarnya dan kebutuhanku yang lima waktu kini kukerjakan dengan suami dan anak perempuanku yang juga bernama Khadijah, masih saja terngiang dikepalaku tentang nasehat sore itu tentang cara agar ibu tak dimarahi Allah.
Oct 30, 2012
Merahku Dulu
Katamu ingin melihat hujan denganku?
Katamu tak usah menangis saat ribuan sedih menerpa.
Jingga pilu juga tau bagaimana merah ini untukmu.
Kupilih lagu sendu untuk memilin rindu,
Menghiasi latar-latar penuh air,
Menerawang balerina yang kuyup dengan tayub-tayub asmara,
Sepertinya matamu memang terlalu sipit merasakan merah ku dulu.
Sepertinya kulit putih mu memang terlalu tebal untuk sekali saja menyentuh bebal nya merahku dulu.
Sepertinya tubuh jangkung kurus mu memang terlalu tinggi untuk sekali saja merendah merasakan merahku dulu.
Dan sepertinya hatimu juga sudah bukan tempat merahku lagi.
Katamu tak usah menangis saat ribuan sedih menerpa.
Jingga pilu juga tau bagaimana merah ini untukmu.
Kupilih lagu sendu untuk memilin rindu,
Menghiasi latar-latar penuh air,
Menerawang balerina yang kuyup dengan tayub-tayub asmara,
Sepertinya matamu memang terlalu sipit merasakan merah ku dulu.
Sepertinya kulit putih mu memang terlalu tebal untuk sekali saja menyentuh bebal nya merahku dulu.
Sepertinya tubuh jangkung kurus mu memang terlalu tinggi untuk sekali saja merendah merasakan merahku dulu.
Dan sepertinya hatimu juga sudah bukan tempat merahku lagi.
Rumah Kertas
Buat saja musiknya berdendang seirama dengan rumah bercelcius rendah ini,
lanjutkan potongan kayu mu sayang,
aku akan menghias cawan-cawan kelabu milik kita dengan arang-arang legam dari potongan terakhir kayumu.
Jangan takut api takkan menghanguskan rumah kertas mungil kita,
setiap lapisannya telah dialuri dan dialiri rasa,
persis sama seperti hangat saat timangan sayangmu mengayun membelai pipiku yang mulai beku.
Ah sudahlah bila api benar ingin menghanguskan rumah kertas ini. Aku takkan menghalanginya,
asal tak membakar aku dan kamu saja dengan kenangan.
Rumah kertas berpoles merah jambu yang didempul dengan semen kelabu ini sekokoh tangan dan bahumu ketika menopang tubuhku dalam qobul semusim lalu.
Kini lihatlah, betapa terik jaman telah menyengat aku dan kamu bersamaan, rambutmu mulai memutih begitu juga aku, keriput mulai berlekuk di ujung-ujung kulit samping mataku begitu juga kamu, dan gadis serta lelaki kita telah mencari sandaran baru selain aku dan kamu.
Menggulung ke beberapa jeda lalu saat kamu masih menemukanku malu-malu dipelukan ibu.
Sepertinya mata elangmu juga tak tau dibalik itu aku menyimpan rindu.
Oct 21, 2012
Aku Dan Kamu?
Aku menununtut sendiri rinduku, membuat laporan mengenai
hal-hal tidak mengenakkan yang ia timbulkan.
Aku membagi gelisah ku sendiri, membuat apa yang tersentuh
semakin mencekam, berakhir di peti-peti harapan.
Tak ada satupun yang mengerti, aku bukan gila, aku tak alami
apa itu yang dinamakan orang-orang dengan depresi, aku hanya sedang menikmati
rindu membuat ujung-ujung kuku menguning lalu memerah penuh darah.
Aku sedang menikmati keadaan bilik kosong yang ditinggalkan
si empunya beberapa waktu lalu, dibilik itu ada namaku, ada namanya, bergandeng
dalam satu deret kalimat.
Kujelajahi sejengkal demi sejengkal huruf yang membentuk
namaku dan namanya, berwarna merah hati, bergaris tegak tak tersambung dan
dipisahkan dengan satu simbol yang membuat aku dan dia terpisah, tidak jauh, namun itu cukup untuk membuat nya
menyandang jarak denganku.
Oct 19, 2012
Manusia
Tak melulu tentang rindu aku menghias layar semu,
sebab tanpa merindumu aku juga tuai pahitnya jamu.
Tak melulu tentang cinta aku ramaikan suasana,
karena lima bilangan apa aku harus ketinggalan?
Tak melulu tentang sakit aku menderma berbalas irit,
jadikan nyata didepan mata semakin terhimpit.
Tak melulu tentang si tampan aku berbela sungkawa sungguh membela harap saja,
buat aku jadi takjub bukan termaktub.
Hanya melulu soal Tuhan aku tertawan dengan miliaran tumpuk heran,
heran mengapa Tuhan sangat menakjubkan.
Jogjakarta~
sebab tanpa merindumu aku juga tuai pahitnya jamu.
Tak melulu tentang cinta aku ramaikan suasana,
karena lima bilangan apa aku harus ketinggalan?
Tak melulu tentang sakit aku menderma berbalas irit,
jadikan nyata didepan mata semakin terhimpit.
Tak melulu tentang si tampan aku berbela sungkawa sungguh membela harap saja,
buat aku jadi takjub bukan termaktub.
Hanya melulu soal Tuhan aku tertawan dengan miliaran tumpuk heran,
heran mengapa Tuhan sangat menakjubkan.
Jogjakarta~
Oct 18, 2012
Oct 11, 2012
Takut Hingga Menggelayut
Bisa menjadi berbeda, bisa menjadi luar biasa, hanya bisa...
Tak lupa disematkan semacam pucuk dari lengkungan berbentuk tanda tanya.
Memang tak dinyana banyak yang akhirnya bergelayutan menuai tuk diwujudkan hingga tua.
Mulai dari bilangan kecil di Bulak Sumur dan berakhir menuju Rapenburg.
Sengatan-Sengatan akan membentuk teluk,
Hiruk pikuk mulai menyerudukt,
terik diatas sepatu-sepatu kinclong manusia penduduk gedung rakyat hingga runtuhnya rezim, tamat.
Aku inginkan
Butuhan bantuan, butuh penyelesaian, dan butuh pelukan.
Dingin, nanar, sepi, takut, menggelayut.
Seolah-olah si singa yang lebih sering terlihat garang kini juga menangis,
menahan perih.
Oh! ada Tuhan, ada Tuhan!
Mencari Tuhan, berharap dapat pelukan hangat, hingga tidur dan tak bermimpi lagi.
Aku hanya sedang di genggaman paling kecil saat sebuah kata "Putus Asa" bernaung.
Oct 3, 2012
Karena Aku Wanita
Aku wanita perlu sejenak bertanya pada dunia, ini kenapa?
Aku wanita perlu sejenak menangis mengeluarkan semua yang miris.
Aku wanita berharap dipeluk dengan canda tawa.
Pernah aku lelah menangis lalu aku tertawa,
tawa itu simpul berbaur mandul bersama canda.
Benar-benar tertawa, terbahak bahkan.
Ada artinya? sedikitpun tidak.
Sekedar penghilang jalanan padam.
Sekedar penyemangat wanita muram.
Oct 1, 2012
Kain
Tak boleh ada yang menginjak genangan air itu,
tak ku ampun saat pakaian-pakaian bersih tergantung itu menghitam dengan bercak tanah.
Kenapa jadi terlalu merah meranum penuh amarah?
Aku merajutnya dengan benangku sendiri,
aku menantang alam hanya untuk cuil-cuilan kapas yang bertaburan dihempas lilitan topan.
Aku memintalnya memakai semua sisa tenaga yang habis untuk menghadang topan,
hingga goresan luka tak ada yang sebesar lidi, semua menganga nampak daging dan sendi.
Hanya seperti itu?
Tidak, masih ada lagi, aku menjahitnya dengan sisa kasih yang kupendam
dan kini butuh isi ulang hanya untuk menyatukan yang awalnya benang.
Putih ini menawan menghitung dengan sederet akal pun tak mempan digunakan,
menyaingi paras bersih untuk si gagah di balik lembah.
Kain berwarna putih tergenggam lembut disampirkan untuk yang terkasih,
membelai-belai benih menadah langit meminta titik-titik air agar segera berguguran,
timbul sebuah lengkungan kain yang termaktub dalam sambungan rihlah.
Putih ini guna yang terkasih, tak percaya atau hanya menduga?
ini nyata, sungguh percayalah,
aku terbawa hati, lalu dia pergi.
Bulir-bulir siksa mulai menyapu-nyapu, tertegun pada kepiluan tak berujung
menunggu rindu yang entah dia yang membawa hati ini merasakan rindu sehelai kain berparas nanar atau tidak.
Jogjakarta~
Sep 29, 2012
Akhiri Saja
Aku sedang senang tertawa tak peduli mana yang lara,
bait ku penuh canda hanya jiwa saja yang terluka,
sepotong harakat bisa buatku menderma,
tapi sepotong lagi buatku tambah merana.
Sudah ikhlas untuk mengakhiri sampai disini
tak peduli timbunan ranjau-ranjau yang akan terinjak hingga mati,
bergeming dengan waktu layaknya pemburu handal, nyatanya
terpental sampai dalam.
Janji tak kan buat yang kemarin kembali, katanya sehidup semati,
tapi masih saja menghidupi diri sendiri, meracau menebar sakau.
Terbolak-balik aku yang garang, dan kamu yang letoi,
berceloteh sepanjang detik hanya untuk mendengarmu lepas dari hiruk pikuk.
Sep 27, 2012
hanya kata yang terangkai, menggantung
Tak tau ini hanya merangkai kata rindu untukmu atau hanya sekedar mengusir rasa dahaga akan goresan warna baru.
Bundaran hijau yang diminiaturkan oleh globe terasa sangat asing, apa aku yang terlalu jauh melangkah mencari yang baru?
semakin derap langkahku bertalu semakin hening dan mencekam, menggegam urat sarafku.
apa aku belum siap miliki lawan yang seperti ini, atau hanya terlalu pecundang untuk membuat semuanya takluk seperti mimpiku dulu?
buka, bukan itu semua namun pilihan kedua sungguh menohok seperti petir menggelegar, menerkam rasa pedih menjatuhi tebing-tebing gagal.
Terlalu munafik jika aku menyangka diriku baik, ekstrimis dan radikal masih saja menggelayuti benak bukan? menyinggung kata, memekik lara mash saja jadi bahan utama meluapkan semua kegundahan hati.
bukan orang gagal hanya hampir gagal menjadi sesuatu yang bak, untungnya Tuhan menolongku saat itu, ditarik masuki lembah hijau dengan benih langit biru menggelayut semua burung cantik dan dibawahnya aku.
Sep 12, 2012
Addiction
Semuanya menjadi kaku seperti air yang terkena hawa dingin lalu membeku,
aku lumpuh memandangmu, mati-matian kutepis rasa ini agar tak terjerumus ke hulu pilu
kecanduan, mungkin hanya kata itu yang dapat menggambarkan asa ku,
candu perhatian dan kabarmu hingga kini tak dapat sekalipun kubiarkan,
terus-menerus mendoktrin diri sendiri, menginginkan hal normal tanpamu, nyatanya gagal dan gagal lagi.
Sudah sekian hari hidupku dipenuhi kemampuanmu untuk memperhatikanku, aku layu dengan sejuta kata yang dirangkai untuk hanya sekedar mendengar keluhanku.
Rasa ini tak boleh berlanjut, tak boleh!
atau aku hanya akan membuat semuanya menjadi tak mudah dilupakan lagi,
belum cukup pengalamanku untuk merasakan sakit darimu, ya karna memang tak pernah sedikitpun kau lakukan itu.
Saat kekhawatiran mulai merasuk tanpa kabar darimu, aku sendiri merasa konyol seperti badut taman bermain yang hanya bisa menari kesana kemari, kegelisahanku membuat zat semacam nikotin yang menjadi candumu bertambah banyak, beranak pinak, menggelayuti semua organ hingga lemas.
Sebenarnya aku hanya takut semuanya tak sejajar, tak ada timbal balik untukku terhadap candumu, aku pernah merasakan nya sebelumnya bukan dengan mu, hanya sakit dan meninggalkanku.
Sep 10, 2012
Satu Tuts
Senyum mulai tersungging sambil menelaah semua deret huruf yang tak tercetak tebal di layar terang,
Habiskan ratusan detik untuk kembali bersua setelah sekian lama,
Bukan asmara yang bergejolak di relung yang biasa disebut hati,
Hanya sehelai kecil kekaguman yang memuncak, berpuas untuk dilepaskan,
Memang aku yang memulai, tapi apa salahnya?
Berproses melalui limit-limit kecil hingga bilangan satuan yang tak berujung dari nol,
seperti aku melihat dan merasakan semuanya, tak dari nol, langsung menuju angka ratusan, bila semua dijumlahkan akan menjadi gundukan besar angka untuk menilaimu.
Berulang kembali, kali ini bukan dengan bibir tersungging, bukan dengan alunan senyum. ternyata bukan hanya kagum, sedikit demi sedikit merangkak menjadi sakit, mulai paham semua nya bisa berbolak balik.
tulisan yang tak tercetak tebal pula lah dalang semua kebuntuan ini, layar terang juga membantu seperti sinden yang menyanyikan benih pilu. Ingin pula kuakhiri dengan mengurangi semua gundukan nilai hingga surut menjadi sebatas garis tipis. semunya berjalan dengan rasa pedih saat tuts-tuts keyboard mulai tersentuh membentuk rangkaian kalimat, mengerti semua akan ada akhir dan batasnya, sepertinya batasku hanya sampai disini, terhenti atau menghentikan diri terlalu tipis untuk kuketahui.
Habiskan ratusan detik untuk kembali bersua setelah sekian lama,
Bukan asmara yang bergejolak di relung yang biasa disebut hati,
Hanya sehelai kecil kekaguman yang memuncak, berpuas untuk dilepaskan,
Memang aku yang memulai, tapi apa salahnya?
Berproses melalui limit-limit kecil hingga bilangan satuan yang tak berujung dari nol,
seperti aku melihat dan merasakan semuanya, tak dari nol, langsung menuju angka ratusan, bila semua dijumlahkan akan menjadi gundukan besar angka untuk menilaimu.
Berulang kembali, kali ini bukan dengan bibir tersungging, bukan dengan alunan senyum. ternyata bukan hanya kagum, sedikit demi sedikit merangkak menjadi sakit, mulai paham semua nya bisa berbolak balik.
tulisan yang tak tercetak tebal pula lah dalang semua kebuntuan ini, layar terang juga membantu seperti sinden yang menyanyikan benih pilu. Ingin pula kuakhiri dengan mengurangi semua gundukan nilai hingga surut menjadi sebatas garis tipis. semunya berjalan dengan rasa pedih saat tuts-tuts keyboard mulai tersentuh membentuk rangkaian kalimat, mengerti semua akan ada akhir dan batasnya, sepertinya batasku hanya sampai disini, terhenti atau menghentikan diri terlalu tipis untuk kuketahui.
Aug 24, 2012
Akan Kembali Asing
Berbagai pertanyaan saya tulis di post saya sebelumnya mengapa begini dan begitu, mengapa bisa seperti ini, bagaimana bisa mereka berbuat seperti itu pada muslim, dan masih banyak lagi pertanyaan di Apa Salahnya Islam? .
Kini pertanyaan itu sedikit demi sedikit telah terurai dan terjawab, menjadi sebuah hal yang akan saya maklumi jika "Muslim" yang lain menghardik, menghina, bahkan menyudutkan agamaku, Islamku!
Aug 11, 2012
Apa Salahnya Islam?
Apa salahnya Islam ? apa salahnya Jadi Muslim ? kami bukan teroris kami bukan panjahat tapi kenapa masih banyak yang menyudutkan kami? bahkan banyak orang muslim juga menyudutkan muslim lainnya? apa tidak cukup yang memusuhi kami dan mendzolimi kami ini hanya kaum-kaum Zionis saja? apakah sesama muslim harus begini ? saling menyudutkan saudaranya? tak bisakah seperti jaman Rasulullah dulu para sahabat berlomba-lomba untuk membantu sesamanya?
Apa salah kami bisa dipenuhi umpatan begini? Bahkan kami dibunuh dan di siksa, saudara kami di Rohingnya dibunuh dengan sadis saat mereka mengaku bahwa mereka muslim. Apa salah agama ini sampai kami disakiti seperti ini? Saudara sesama Muslim kami di Palestina tak punya rumah tak punya jatah wilayah, tanah mereka di bom bardir Zionis. Apa salah kami?
Apa salah kami bisa dipenuhi umpatan begini? Bahkan kami dibunuh dan di siksa, saudara kami di Rohingnya dibunuh dengan sadis saat mereka mengaku bahwa mereka muslim. Apa salah agama ini sampai kami disakiti seperti ini? Saudara sesama Muslim kami di Palestina tak punya rumah tak punya jatah wilayah, tanah mereka di bom bardir Zionis. Apa salah kami?
sudah 18 tahun
Sudah 18 ternyata, haah cepat sekali semua berlalu meninggalkan suka, duka dan rindu. Menginjak usia ini semuanya biasa saja tak ada yang spesial, walau tak ada yang spesial tapi ada satu yang khusus dihati. ucapan selamat ulang tahun dari my beloved friends, terimakasih sudah mendoakan agar menjadi orang yang lebih dewasa dan tentu nya semakin dekat dengan Allah, cengeng memang bila aku menangis saat membaca ucapannya, ah sudahlah aku emang nangis kok :'D
di umur dan menginjak tahun yang baru dalam hidup ini tentu banyak harapan besar yang ingin dicapai.
di umur dan menginjak tahun yang baru dalam hidup ini tentu banyak harapan besar yang ingin dicapai.
- Jadi hamba yang lebih taat dan istiqomah, HARUS ! (allahuma anta robbuna farzuqnal istiqomah)
- Jadi anak yang patuh.
- Jauh dari hasad, iri, dengki dan ceman-ceman nya.
- Jadi pengusaha sukses , mueehehehe
- PSIKOLOGI UGM :D
- dan masih banyak lainnya.
Aug 8, 2012
Aku Mulai Kagum Lagi
Tak sejalan dengan niat, langkahku kian berat, aku lamban dalam hal ini, aku hanya butuh tuntunan.
sekian lama aku mengerti bahwa rasa yang baik ini memang seperti sekarang, aku mulai sendiri lagi menapak kaki di tanah dingin nan sepi.
ilmuku rendah bagai tanah, aku hanyut dalam semu saat takdir memangku ku menuju yang terbaik. Aku tak risau kan takdir, aku acuhkan dia. tambah semu saja bukan hidupku?
sekian lama aku mengerti bahwa rasa yang baik ini memang seperti sekarang, aku mulai sendiri lagi menapak kaki di tanah dingin nan sepi.
ilmuku rendah bagai tanah, aku hanyut dalam semu saat takdir memangku ku menuju yang terbaik. Aku tak risau kan takdir, aku acuhkan dia. tambah semu saja bukan hidupku?
Jul 27, 2012
Diampun Aku Baik
aku hanya pengagum berat, tanpa timbangan juga ukuran. Sebenarnya ini semua kosong hanya sedikit terisi, aku saja yang memberat-beratkan.
Hingga pergi, ini semua ilusi aku mengerti sendiri tentang hatiku ini. Bukan maksud untuk melupakan ini dan itu ketika habis waktu bersama. Tapi ini soal hati, sedikit pun tak ku sangkal bila akan berlanjut sampai perih begini, tapi sekali lagi ini soal hati.
Biar saja dipendam dalam-dalam sampai tak tau orang, nyatanya aku tulus. Tak perlu ditanyakan lagi, aku tak mau mengumbar. Yang terbaik dari yang Maha pasti akan datang, lambat atau cepat hanya masalah
Hingga pergi, ini semua ilusi aku mengerti sendiri tentang hatiku ini. Bukan maksud untuk melupakan ini dan itu ketika habis waktu bersama. Tapi ini soal hati, sedikit pun tak ku sangkal bila akan berlanjut sampai perih begini, tapi sekali lagi ini soal hati.
Biar saja dipendam dalam-dalam sampai tak tau orang, nyatanya aku tulus. Tak perlu ditanyakan lagi, aku tak mau mengumbar. Yang terbaik dari yang Maha pasti akan datang, lambat atau cepat hanya masalah
Jul 19, 2012
Aku Hanya Sepotong Kecil
Aku hanya ingin bebas, terlepas dari semua beban berat saat aku menjadi diriku.
Aku hanya ingin menantang langit, yang pasti selalu mengalahkan ku saat aku menjadi apa adanya sekarang.
Menjelajahi semua jegkal papan keyboard qwerty, mengayunkan sesukaku semua jari-jari yang kumiliki.
Tak peduli malam sudah larut atau ayam jago sudah berkokok, jariku tetap menari-nari memencet semua tuts-tuts huruf.
Aku hanya ingin menantang langit, yang pasti selalu mengalahkan ku saat aku menjadi apa adanya sekarang.
Menjelajahi semua jegkal papan keyboard qwerty, mengayunkan sesukaku semua jari-jari yang kumiliki.
Tak peduli malam sudah larut atau ayam jago sudah berkokok, jariku tetap menari-nari memencet semua tuts-tuts huruf.
Jul 10, 2012
Buat Ibu dari fizah (cerpen)
Ibu sudah tua umurnya sudah setengah abad sekarang, keriput diwajah semakin lama semakin banyak.
Ibu sudah tua, sudah renta dan sakit-sakitan.
Sering wajah tua itu menunjukan mimik marah pada kami 4 bersaudara, muka sedih hingga menangis gara-gara anak-anaknya, juga tak jarang mampir di wajah sepuh itu.
"Nduk, dadio anak le nurut, le gemati karo sedulurmu" pinta ibu saat kami tengah duduk bersama, melihat sore didepan rumah yang saat itu tidak begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan perkotaan.Aku hanya diam menerawang kebelakang seberapa tidak menurutnya aku pada bapak dan ibu."Aku sudah menjadi penurut, aku mau berbagi dengan saudaraku !" gerutu ku dalam hati, kutinggalkan ibu sendiri aku pergi masuk kekamar dengan hati dongkol karena perkataan ibuk.
Mar 12, 2012
yah salahku
detik jam itu menemani lamunan, tik tak tik tak tik tak
begitu seterusnya hingga jauh menerawang tentang semua kesalahanku.
satu tetes dua tetes hingga deras air itu mengalir..
yah salahkan terus saja aku seperti ini,
ini memang salahku ! ini memang salahku !
begitu seterusnya hingga jauh menerawang tentang semua kesalahanku.
satu tetes dua tetes hingga deras air itu mengalir..
yah salahkan terus saja aku seperti ini,
ini memang salahku ! ini memang salahku !
Subscribe to:
Comments (Atom)

