Sep 29, 2012

Akhiri Saja


Aku sedang senang tertawa tak peduli mana yang lara,
bait ku penuh canda hanya jiwa saja yang terluka,
sepotong harakat bisa buatku menderma,
tapi sepotong lagi buatku tambah merana.

Sudah ikhlas untuk mengakhiri sampai disini
tak peduli timbunan ranjau-ranjau yang akan terinjak hingga mati,
bergeming dengan waktu layaknya pemburu handal, nyatanya
terpental sampai dalam.

Janji tak kan buat yang kemarin kembali, katanya sehidup semati,
tapi masih saja menghidupi diri sendiri, meracau menebar sakau.

Terbolak-balik aku yang garang, dan kamu yang letoi,
berceloteh sepanjang detik hanya untuk mendengarmu lepas dari hiruk pikuk.

Sep 27, 2012

hanya kata yang terangkai, menggantung


Tak tau ini hanya merangkai kata rindu untukmu atau hanya sekedar mengusir rasa dahaga akan goresan warna baru.
Bundaran hijau yang diminiaturkan oleh globe terasa sangat asing, apa aku yang terlalu jauh melangkah mencari yang baru?
semakin derap langkahku bertalu semakin hening dan mencekam, menggegam urat sarafku.
apa aku belum siap miliki lawan yang seperti ini, atau hanya terlalu pecundang untuk membuat semuanya takluk seperti mimpiku dulu?
buka, bukan itu semua namun pilihan kedua sungguh menohok seperti petir menggelegar, menerkam rasa pedih menjatuhi tebing-tebing gagal.

Terlalu munafik jika aku menyangka diriku baik, ekstrimis dan radikal masih saja menggelayuti benak bukan? menyinggung kata, memekik lara mash saja jadi bahan utama meluapkan semua kegundahan hati.

bukan orang gagal hanya hampir gagal menjadi sesuatu yang bak, untungnya Tuhan menolongku saat itu, ditarik masuki lembah hijau dengan benih langit biru menggelayut semua burung cantik dan dibawahnya aku.

Sep 12, 2012

Addiction


Semuanya menjadi kaku seperti air yang terkena hawa dingin lalu membeku,
aku lumpuh memandangmu, mati-matian kutepis rasa ini agar tak terjerumus ke hulu pilu
kecanduan, mungkin hanya kata itu yang dapat menggambarkan asa ku,
candu perhatian dan kabarmu hingga kini tak dapat sekalipun kubiarkan,
terus-menerus mendoktrin diri sendiri, menginginkan hal normal tanpamu, nyatanya gagal dan gagal lagi.
Sudah sekian hari hidupku dipenuhi kemampuanmu untuk memperhatikanku, aku layu dengan sejuta kata yang dirangkai untuk hanya sekedar mendengar keluhanku.

Rasa ini tak boleh berlanjut, tak boleh!
atau aku hanya akan membuat semuanya menjadi tak mudah dilupakan lagi,
belum cukup pengalamanku untuk merasakan sakit darimu, ya karna memang tak pernah sedikitpun kau lakukan itu.
Saat kekhawatiran mulai merasuk tanpa kabar darimu, aku sendiri merasa konyol seperti badut taman bermain yang hanya bisa menari kesana kemari, kegelisahanku membuat zat semacam nikotin yang menjadi candumu bertambah banyak, beranak pinak, menggelayuti semua organ hingga lemas.

Sebenarnya aku hanya takut semuanya tak sejajar, tak ada timbal balik untukku terhadap candumu, aku pernah merasakan nya sebelumnya bukan dengan mu, hanya sakit dan meninggalkanku.

Sep 10, 2012

Satu Tuts

Senyum mulai tersungging sambil menelaah semua deret huruf yang tak tercetak tebal di layar terang,
Habiskan ratusan detik untuk kembali bersua setelah sekian lama,
Bukan asmara yang bergejolak di relung yang biasa disebut hati,
Hanya sehelai kecil kekaguman yang memuncak, berpuas untuk dilepaskan,
Memang aku yang memulai, tapi apa salahnya?
Berproses melalui limit-limit kecil hingga bilangan satuan yang tak berujung dari nol,
seperti aku melihat dan merasakan semuanya, tak dari nol, langsung menuju angka ratusan, bila semua dijumlahkan akan menjadi gundukan besar angka untuk menilaimu.
Berulang kembali, kali ini bukan dengan bibir tersungging, bukan dengan alunan  senyum. ternyata bukan hanya kagum, sedikit demi sedikit merangkak menjadi sakit, mulai paham semua nya bisa berbolak balik.
tulisan yang tak tercetak tebal pula lah dalang semua kebuntuan ini, layar terang juga membantu seperti sinden yang menyanyikan benih pilu. Ingin pula kuakhiri dengan mengurangi semua gundukan nilai hingga surut menjadi sebatas garis tipis. semunya berjalan dengan rasa pedih saat tuts-tuts keyboard mulai tersentuh membentuk rangkaian kalimat, mengerti semua akan ada akhir dan batasnya, sepertinya batasku hanya sampai disini, terhenti atau menghentikan diri terlalu tipis untuk kuketahui.