Mar 16, 2013

Cap-Cip-Cup

Tak punya kosa kata yang cukup bila harus meluruhkan mulut-mulut dendam yang kian sirik menghujam menajam, terlalu sempit memikirkan apa besok maut masih enggan untuk menjemputku pulang, keperaduan, pangkuan Tuhan.

Mungkin nasib  masih cap-cip-cup mana dulu yang harus diambil dan  diberikan untukku, atau bahkan  nasib masih memutar jarum agar dia behenti sendiri ditempat yang diinginkan, bisa baik, bisa sangat baik, atau bahkan amat sangat baik. Mengapa tak ada yang buruk? karena aku tau Tuhanku itu slalu baik, memilihkan jalan baik dan apa-apa yang terbaik.

Meski sedikit berliku, turun, naik dan menikung, itu tandanya Tuhan tak ingin melihatku menyia-nyiakan yang sedikit itu. Karena pasti, pasti disetiap persimpangan yang ditemui ada rempah-rempah pahit yang akhirnya menjadi baik, dan gula-gula manis yang akan menjadikan sejengkal likunya lebih manis