Nov 9, 2012

Agar Ibu Tak Dimarahi Allah

Ku lihat letih di sela keriput ibu, matanya seperti menyembunyikan sesuatu dari ku, tapi apa itu? Sudahlah mungkin ibu akan diam bila kutanyai sekarang biar beliau istirahat dulu, aku beranjak setelah sesaat menjadi gadis penyambut bagi presiden di negara kecilku, kuseduhkan teh pahit digelas merah kesayangan ibu, beliau memang tak suka dengan teh manis "takut terbuai dengan manisnya gula padahal hidup tak semanis itu" kenangku tentang kata Ibu waktu kusodorkan teh kotak dalam perjalanan pulang dari Kudus.

Setelah mengambil mukena putih berbodir bunga yang dibuat dari benang berwarna merah jambu milik ibu aku menghantarkan teh buatanku, meletakkanya di meja bersandingan dengan mukena cantik tadi. "Sudah sholat ashar nduk?" ucap ibu lembut sambil memandangku, mata coklatnya masih saja menyembunyikan sesuatu. Angguk kan kecil ku menjawab pertanyaan ibu yang sejenak kemudian meninggalkanku menuju tempat wudhu lalu masuk menuju kamar untuk mengakhiri kebutuhannya akan Tuhan di waktu sore. "Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh, Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh" kudengar salam lirih ditemani nafas yang sesenggukan menandakan ibu telah selesai sholat.

Penasaran semakin membuat jantungku seperti balon yang terus dipompa namun tak tahu kapan ledakan besar akan terdengar karena letusannya, aku masih takut untuk menanyakan apa yang sebenarnya mata coklat ibu sembunyikan, sebenarnya presiden yang merangkap sebagai bendahara negara, menteri ekonomi, serta badan pengawas di negara kecil dirumahku ini tak pernah sekalipun berkata keras bahkan marah padaku, melihat senyuman ibu saat aku berbuat salah saja bulu kuduk ku sudah bergidik apalagi mendengar beliau marah tak bisa kubayangkan bagaimana remuknya hatiku.

Maghrib sudah menyapa lantunan adzan dari 'bilal' di surau samping gang juga menyeru syahdu, biasanya ibu sudah langsung menggandengku menuju suara itu dengan mukena cantik dan mukena hijau tosca milikku di bahunya,  namun entah kenapa hari ini beliau memilih memenuhi kebutuhan akan Tuhan nya di waktu senja hanya dirumah saja. oh iya Ayahku sudah meninggal sejak umurku 3 tahun karena kecelakaan sehingga aku tak banyak mengenalnya, bukannya aku tak sayang dan begitu saja melupakan ayah, taukah aku yang sudah menginjak bangku kelas tiga SMP ini masih saja iri pada temanku yang dijemput ayahnya saat pulang sekolah. Menangis dan mengadu di pelukan ibu satu-satunya obat mujarab yang bisa kutelan untuk menghilangkan iri akan sosok seorang ayah.

"Ya Allah jadikan anakku menjadi wanita sholehah, menjadi muslimah yang selalu Engkau berkahi, yang disetiap helaan nafasnya tersebut namaMu, tak tau aku harus memasrahkannya pada siapa kalau bukan padaMu, dia satu-satunya pengisi kekosonganku di saat suamiku telah menghadapMu lebih dulu. Jadikan yang terbaik dari Mu itu milik putriku, kunamakan dia Khadijah agar julukan At-Thahirah yang berarti seorang wanita yang suci juga menjadikan buah hatiku seperti itu, kunamakan dia Khadijah seperti istri pertama Rasulku agar kepercayaannya, cintanya, dan pengorbanannya untukMu mengalir pada setiap tetes darah yang ada di tubuh putri kecilku, terakhir agar surga yang Engkau janjikan pada beliau yang masuk dalam golongan As-Sabiqun al-Awwalun bisa direngkuh oleh Khadijahku."

Tubuhku lemas mendengar doa ibu, tangis tak henti-hentinya meluncur menghujani pipiku, perasaan bersalah belum mampu membanggakan ibu berseliweran di hadapku, seakan mengejek dan hampir membuatku mati karena pilu. Apa itu yang membuat mata coklat ibu sesore ini menyembunyikan sesuatu dariku? Apa itu yang membuat ibu sesenggukan saat salam ashar tadi? Apa itu yang membuat ibu tak menggandengku menuju surau seperti biasanya?. Belum selesai aku meracau di dalam hati tentang tingkahku,  ibu sudah keburu mengusap kepalaku, membelai helaian hitam rambutku, "Kenapa nduk?" suara lembut ibu membuat hatiku semakin bergetar, aku memeluk ibu, "maafin dijah buk, belum bisa jadi apa-apa buat ibuk, belum bisa banggain ibuk, belum bisa bawa ibuk ke Mekkah buat meluk ka'bah, maafin Dijah buk Dijah masih nakal masih suka buat ibuk khawatir" suaraku ikut bergetar seperti hatiku membuat suaraku tak jelas saat mengungkapkan semua permintaan maafku pada ibu, tangispun makin membuat baju ibu basah dengan air mataku.

Dibelainya pipiku untuk menyeka rintikkan tangis yang masih saja jatuh dari dua kelopak mata bulatku, "gak pa pa nduk, ibuk yakin Dijah bisa buat ibuk bangga kayak kata Dijah dulu, ibuk cuma khawatir Dijah gak suka lagi sama adzan tapi lebih suka sama lagu cinta, lebih milih liat kartun daripada sholat sama ibuk, ibuk juga khawatir Dijah gak suka sama gamis dan jilbab yang dibeliin ibuk tapi lebih suka sama hot pants yang bisa bikin Dijah gak disayang lagi sama Allah dan bikin ibuk dimarahin sama Allah." masih dengan sesenggukkan aku berjanji pada ibuk agar jadi anak yang disayang oleh Allah sehingga ibu tak perlu kena marah Allah karena Dijah.

Gamis dan jilbab pemberian ibu sudah kutanggalkan belasan tahun lalu, kini kugantikan dengan yang lebih besar hasil pemberian suamiku, suara adzan juga masih kuhampiri saat aku mendengarnya dan kebutuhanku yang lima waktu kini kukerjakan dengan suami dan anak perempuanku yang juga bernama Khadijah, masih saja terngiang dikepalaku tentang nasehat sore itu tentang cara agar ibu tak dimarahi Allah.