Ibu sudah tua umurnya sudah setengah abad sekarang, keriput diwajah semakin lama semakin banyak.
Ibu sudah tua, sudah renta dan sakit-sakitan.
Sering wajah tua itu menunjukan mimik marah pada kami 4 bersaudara, muka sedih hingga menangis gara-gara anak-anaknya, juga tak jarang mampir di wajah sepuh itu.
"Nduk, dadio anak le nurut, le gemati karo sedulurmu" pinta ibu saat kami tengah duduk bersama, melihat sore didepan rumah yang saat itu tidak begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan perkotaan.Aku hanya diam menerawang kebelakang seberapa tidak menurutnya aku pada bapak dan ibu."Aku sudah menjadi penurut, aku mau berbagi dengan saudaraku !" gerutu ku dalam hati, kutinggalkan ibu sendiri aku pergi masuk kekamar dengan hati dongkol karena perkataan ibuk.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan nasihat ibuk tadi, beliau juga dengan nada lembut saat berbicara itu, kenapa aku marah ? kenapa aku harus dongkol seperti itu ? pikir Fizah
-----
Muka Ibu pucat badannya lemas saat aku meninggalkannya untuk pergi kesekolah.
Pelajaran mulai berlangsung, sendau gurau juga mewarnai pelajaran bahasa indonesia antara aku dengan Janah teman sebangku ku, kami ngobrol ngalor ngidul tanpa juntrungan yang jelas, 'tet tet teeeeeett' bel ganti pelajaran terdengar serentak kami satu kelas mengemasi barang dan pindah ruangan.
Pelajaran terus berganti, hingga akhirnya datang waktu listening, "dret dret dret" handphone gadis itu bergetar, sebuah sms masuk "dek kalok udah pulang, mbotensah mampir mampir nggih ibuk mondok di rumah sakit" air mata Fizah tertahan saat membaca sms dari mas Nur, malu bila harus menangis didepan teman-temannya.
Air wudhu membasahi pipi dan seluruh tangannya ketika ia berjalan menuju mushola kecil ditengah sekolah, "Allahuakbar" air mata seakan banjir saat Fizah mengadu pada Tuhannya.
"Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa"
masih sambil menangis Fizah meminta kepada Rabb untuk kebaikan kedua orangtua nya.
Beruntung bu Elis tidak hadir sehingga listening hari ini diganti dengan tugas, buru-buru disambarnya bolfoin dan kertas fotokopian dari bendahara kelas.
"Kok buru-buru mau keman e Fiz?" tanya Acan pelan.
"mau kerumah sakit ibuk mondok lagi" jawab Fizah. "ini Can tugasku, aku duluan ya, makasih ya Can" timpal Fizah lagi.
"oh iya fiz,semoga ibuk cepet sembuh ya"
sebelum Acan berhasil menutup mulut, gadis itu sudah lari menuju parkiran sambil berteriak '"min amin can".
Karena motor dipacu begitu cepat, tak sampai setengah jam Fizah sudah sampai dirumah, dan hanya mendapati dek Harun. "dek, ibuk empun sui tindak rumah sakit?" tanya Fizah
'uwis' jawab Harun ketus.
Fizah hanya diam, dia tau bila adiknya menjawab dengan ketus seperti itu dia sedang marah, marah besar.
"BRAAAAAKKKK!!!!"
pintu kamar Fizah dibanting begitu keras
"MBAK FIZAH RETI RA IBUK SAKIT GORO-GORO SOPO?, GORO-GORO MBAK FIZAH !"Fizah hanya diam, dia tau bila adiknya menjawab dengan ketus seperti itu dia sedang marah, marah besar.
"BRAAAAAKKKK!!!!"
pintu kamar Fizah dibanting begitu keras
ucap Harun keras hampir menangis.
"Gara-gara sinten dek ?" fizah hanya bisa menunduk saat bertanya kepada adiknya yang baru kelas 6 sekolah dasar itu.
"GORO-GORO MBAK FIZAAHHH !!!, IBUK SAKIT MIKIRKE MBAK FIZAH !, MBAK FIZAH NEK DIKANDANI IBUK MBANTAH, NGOMONG RA TAU ALON KARO IBUK !,IBUK MIKIR MBAK FIZAH MBAAKK !!" kini dek Harun benar-benar menangis, dia duduk di lantai, hanya bisa menunduk sambil berusaha menyeka air matanya yang terus keluar.
Setelah mendengar kata yang keluar bagai petir yang menyambar dari mulut adiknya, Fizah hanya bisa tertegun menunduk menutupi wajah, air mata terus keluar dari kelopak matanya, gadis ini tidak tau harus berbuat apa.Terngiang semua kata-kata yang telah diucapkannya pada sang ibu, kali ini tidak dengan amarah dia mengingat perbuatannya tapi dengan rasa malu dan takut.Takut bila ibu yang sangat dicintai meninggalkannya sendirian.
Karena lelah menangis Fizah tertidur dan tak berapa lama panggilan Allah unutk menunaikan sholat ashar berkumandang membangunkan gadis ini.Mata nya berat untuk dibuka, kepala nya sedikit pusing karena menangis begitu lama.
Segeralah ditunaikkannya sholat ashar.
Beberapa menit kemudian selesai sudah shalatnya, mukena dan sajadah dilipat Fizah dengan rapi.
Setelah meletakkan alat shalatnya di meja, Gadis kelas 3 SMP ini menyambar baju ibu sekenanya lalu dimasukkan ke dalam tas.
Hanya berganti baju tanpa mandi Fizah kembali akan memacu motor nya ke rumah sakit lengkap dengan baju yang telah disiapkannya tadi didalam jok motor untuk menemui sang ibu.
Jalan-jalan protokol yang baru saja ditetesi air hujan di kota kelahirannya yogyakarta ia susuri, menuju sebuah rumah sakit yang dekat dengan kantor pos dengan hati yang tidak karuan antara menyesal dan rasa bersalah.
motor sudah diparkirnya dengan rapi di depan Rumah Sakit, buru-buru dia lari menuju kamar tempat ibunya dirawat, Fizah berhenti didepan pintu, nampak wajah lemas dan pucat terbaring lemah di ranjang paling tengah.
bersambung yaps harus nunggu kelnjutannya si fizah ini lohh, see ya barakallah assalaykum