Sep 22, 2013

Tanya Malam

Malam memang semakin ramai dengan kemerlip bintang dan terpaan rona bulan,
tapi dibalik tabik menawan masih saja menyimpan rindu-rindu masygul kepada fajar, siang, dan temaram senja.
Bagaimana bisa rindu jika bertemu saja tidak pernah?
Apa yang bisa menjadikannya begitu yakin bahwa fajar yang sejuk sering membuat banyak manusia gagal bangun tepat waktu?
Lalu siang yang terik banyak diumpankan abang-abang penjual es untuk melemparkan senyuman pada pembeli?
dan ini tentang senja yang temaram yang menjadikan cinta mulai menampakkan wujudnya lewat sekilas senyum.
Ah iya cinta, malam selalu saja menyuguhkannya dengan baik tanpa dapat celah untuk merendahkan.

Jul 14, 2013

Serana

Tuhan masih memberiku satar untuk merasa sendiri agar sadar segera menapaki kekosongannya, bahwa dekat dengan sang agung lah susur terbaik meluapkan semua dingin dan sepi.
Dan, buncah segera memperlambat jalan, sesenggukan tajam mulai melemah namun membuat karat semakin erat, intrik sengit yang membuat dunia lebih panas dan keras kini kembali ke teras-teras setelah laku memberhentikan diri untuk mengeluh.
mungkin kini angin sedang jengah dengan keluh yang tak kunjung sudah, sepi juga begitu,  tak cepat-cepat mengejawantahkan sabah.

Jun 19, 2013

Pasti Ada Alasan

Pasti ada alasan dibalik semua huruf yang terangkai membentuk sebuah kalimat atau setiap kata yang terlontar dari pita suara milik seseorang. Harusnya akal lebih bisa mencerna bagaimana tabiat seseorang, bukankah sudah kenal -lama-. Aku membicarakanmu yang tanpa dosa memberi label seperti itu dikeningku.

Ini membuatku sedikit kehilangan konsentrasi saat mendengarkan ritmik hujan setelah perkataanmu itu terlontar. Apa kamu ingin tau kenapa begitu? karena aku tak ingin 'jatuh' lagi, belum ingin memiliki rasa seperti dulu lagi, saat harus menyimpan rasa dan mengelabui mata dengan pura-pura manis, bahkan manis itu bukan tabiatku. Harusnya kamu paham bahwa pasti ada alasan disetiap kata yang diucapkan, disetiap rindu yang ditegaskan.

Aku sudah mulai merangkak tidak mempersilahkan siapapun untuk masuk, atau keadaanmu mungkin sedang tidak baik saat berkata seperti itu? Ah, tapi kabar baiknya mungkin Tuhan mempersilahkanku untuk melompat menjauhimu, meninggalkanmu untuk bersama orang lain, atau Tuhan mempunyai cara tersendiri agar aku menemukanmu saat aku sudah pantas.

Ini kusebut cinta, saat aku harus diam ketika kamu melintas di beberapa sel hati dan otakku, saat rasa harus dipendam sedemikian rupa, saat aku mencoba untuk tak menjadi terlalu manis dihadapanmu.

Ya, tak menjadi terlalu manis dihadapanmu, untuk beberapa waktu sampai kagum ini hilang.

Jun 6, 2013

Dariku yang Selalu Penasaran Tentang Takdir di Akhir

Dariku yang selalu penasaran tentang takdir di akhir, yang cukup lelah berproses dan tak sabar untuk memiliki akhiran. Salam  hangat untuk sepucuk  sela yang  aku mengerti hanya disempat-sempatkan. Bila lelahku ini semakin parah, bila jenuhku sudah mulai mengeruh, mengertilah aku yang selalu penasaran tentang takdir di akhir.

Setelah nasibku yang ini jelas Tuhan ingin aku duduk dimana, dan berteman  dengan siapa maka  lembar putih berderet tinta hitam yang terbaca:

1. Pengen Buat Onigiri, bolu kukus, lidah kucing
2. Pengen Pinjem dan Baca  Novel
3. Pengen Nonton Film Horor
4. Pengen Beli Buku
5. Pengen Ke Pantai, Gunung, pokoknya Piknik
6. Pengen  Liat Senyum Kamu  Lagi.

Jangan mengernyitkan kening begitu, tentu yang terakhir itu untukmu, untuk kamu yang selalu setia berkata-kata tentang takdir indah ketika aku tak menyerah.

May 31, 2013

Menjelang Tengah Malam

Aku akan berada disana saat digariskan untuk menemukanmu, aku juga akan berada disana saat digariskan untuk ditemukan olehmu. Lalu langkah-langkah kita sejajar untuk memeluk sama erat jadi satu.

Awalnya aku dan kamu tidak saling kenal pun mengenal, awalnya aku dan kamu tak punya kadar yang sama untuk saling hidup menghidupi.

Seiring dengan lolongan maut yang kian keras kita saling menyapa, saling mengeluhkan duka, dan saling menukar canda, dan akhirnya aku dan kamu menjadi kita.

Dibawah lirik hujan yang mampu memasygulkan senyummu aku meraih nafasmu, menjiplaknya kedalam album biru yang tiap gambarnya terselip doa agar hidup tak selamanya abu-abu.

May 19, 2013

Tulari Mbak Semangat Kalian

Melihat riuhnya masjid dengan calon-calon orang besar yang sedang berlarian kesana kemari, bebas mengungkap kegembiraan mereka dengan kekeh tawa yang serasa tanpa beban atau mungkin memang beban tak hinggap di bahu-bahu mungil mereka. Namun seringnya aku yang telah lebih dewasa dari mereka malah merasa terganggu dengan tawa bahagia yang mereka alunkan.

"Kalau gak niat ngaji pulang aja mas!" seruku dengan suara yang lebih besar dari biasanya, lalu keadaan hening, dia duduk tanpa dendam dengan perkataanku, kini aku yang merasa bersalah telah mengeluarkan kalimat yang seharusnya tak perlu terumbar bebas seperti itu, dan sejurus kemudian setelah sedikit menyenggol temannya salah seorang calon pemimpin tangguh itu berlarian lagi.

Duuh deek, mbak minta maaf sering emosi dengan keriangan kalian, bukankah seharusnya mbak juga harus larut dalam keriangan kalian? berbaur jadi satu hingga kalian merasakan Taman Pendidikan Al-Quran yang nyaman.

Terus ajari mbak ya dek, ajari mbak semangat ngaji seperti yang kalian punya, semangat untuk mengenal Allah seperti yang kalian tunjukkan, yang terlihat bebas dan tanpa beban.

Meski kadang hanya berdua, bertiga atau sendirian mendampingi kalian, rasa kesal dan hal buruk lainnya serasa hilang saat kalian dengan penuh semangat memegang Iqro dan saling berebutan berkata 'mbak aku duluan, aku duluan'.

Ahh deek, sekali lagi maafkan mbak-mbak dan mas-mas pendampingmu ini ya, yang lebih sering bersuara keras dari pada mengelus lembut, yang lebih sering malas daripada berjuang keras membantu kalian mengenal Allah.

Dek, doakan kami ya, supaya tetap istiqomah menunaikan amanah menjadi pedamping kalian, memberikan kalian tempat dan suasana yang nyaman untuk berjuang menggapai jannah, semoga Allah meridhai setiap nafas yang kami hembuskan saat bersama-sama kalian, lalu menjadikan kita satu lagi di Jannah nanti.



May 16, 2013

Ah Buu

Bu, dengarkan aku barang sejenak, meski aku anakmu yang paling sering membantah, meski aku anakmu yang paling sering membebani hatimu, hingga rasanya aku anakmu yang paling sering pula engkau sentuh dengan suara keras.

Bu, taukah ibu hatiku sedang terluka? kemarin aku ingin menangis dipelukan seseorang, namun kini aku hanya ingin ibu tau bahwa aku ingin Ibu sentuh dengan sejumput senyum manismu.

Semua salah dan keluhku mungkin menutupi penglihatasn ibu bahwa aku juga mau senyummu, ah buu, aku berharap Ibu terus sehat, dan selalu bersabar dengan semua tingkahku.

Buu, aku ingin meninggalkanmu barang sejenak, agar aku tau betapa berartinya dirimu, agar ibu tenang sejenak tanpa aku disisimu.

May 15, 2013

Diamlah, Berikan Saja Bahumu

Bila boleh aku ingin sebentar saja meminjam bahu siapa pun  sekedar menyandarkan keluh, bila boleh lebih, aku ingin menangis tersedu-sedu dibahumu agar khawatir ini hilang, atau bila boleh, cukup hentikan aku dan mulai lah memelukku, saat tangisku mulai pecah saat peluhku mulai buncah diamkan saja, aku hanya butuh bahumu.

Aku jatuh lagi, seperti yang sudah kamu tau aku gampang dijatuhkan.
Aku mengeluh lagi, seperti yang sudah kamu tau.

Bila bisamu hanya mengatakan 'ada yang bernasib lebih buruk' itu hakmu. Tapi setelah itu berikan saja bahumu, dan semua selesai dengan tangis yang mengharu membasahi lengan bajumu.

May 14, 2013

Lalu? (II)

Manyusuri setiap sajak luka yang kau buat semalaman, aku tau ketidak sengajaanmu yang terus menerus itu yang membuatnya lebih menanah dan mendarah.
Dan, satu lagi lara mengumpat-umpat, seakan terik tak mampu buatnya berhenti, sekaan dingin membuatnya semakin berenergi.
Waktu melambat, atau aku saja yang mengalahi siput, merasakan nanar disetiap ujung kulit.

Lalu?


Langit kian Gelap, mengusap-usap mendung manja mengalahkan cahaya.
Lalu, dibawah balutan meganya si gadis menuliskan citanya.
Psikolog hebat.
Sudah, tanpa titik atau koma dan penjabaran lainnya.

Apr 30, 2013

Kita Tanpa Jarak

Takutku bila tak sempat tuliskan saat-saat bersama kalian, beberapa kepala berbeda pemikiran yang tentunya berbeda tujuan juga, namun aku tau kita saling memangkas ego masing-masing agar  tak saling menuliskan pedih mengukir sedih.

Pernah kalian melihatku menangis begitu juga aku pernah melihat kalian menangis, tentu dengan masalah yang berbeda, namun, anehnya kita bisa saling tertawa atau menertawakan hal yang sama, bahkan menertawakan satu sama lain, dan tak ada luka bila kita saling menertawai.

Bila yang satu sedang berapi-api yang lain siap menjadi air dan embun, bila yang satu sedang diam yang lain siap menjadi radio rusak tak tau letak untuk berisik, beruntungnya tak hanya ada dua kepala diantara kita, jika pecah tak ada lem diantara kita berdua, jika hampir jatuh tak ada yang rela bergelayut untuk menggapai kita.

Mungkin kita bertemu ditempat yang tak disangka namun tentu kita tak kan berakhir bila hanya terpisah jarak dan angin, hatiku sudah diikat kuat-kuat oleh Tuhan agar tak berhenti hidup bersama kalian. Ini hanya masalah waktu, bila Tuhan berkenan pasti kita akan disatukan lagi dalam tempat yang jauh lebih  indah dan baik.

Sedekat itukah? iya, menurutku, lebih lagi aku berharap kalian juga.

Suatu saat nanti, saat kita sudah sama-sama besar dan hebat, saat orang tua kita sudah membanggakkan kita kesana-kemari, kita akan berkumpul dan menertawakan kisah yang ini dan itu, menertawakan kenapa dulu kita menamai seseorang dengan julukan aneh, menertawakan pertanyaan jorok saat sedang melahap makanan, menertawai foto seseorang yang terlihat tidak lucu bahkan sama sekali tidak lucu. dan menertawakan kata 'padahal' yang kita sambung dengan kalimat ambigu.

Apr 29, 2013

Maaf Dariku Untukmu

Tersisa setitik senyum diwajah-wajah lelah, lamanya proses menjadikan kita tua dijalan yang tak mengerti bahwa aku dan kamu sempat tersandung peluh dan keluh.
Maaf bila mulutku jarang berucap manis, Maaf bila tabiatku tak nyamankan hatimu, namun aku dan kamu akan selalu menjadi kita, kita yang dulu pernah satu.
Ingatkah? dulu kamu dan aku pernah berbagi satu kertas, aku menuliskan namamu dan kamu menuliskan namaku disebuah deretan ke-panitia-an, masih ingat?
Mungkin untukmu itu sudah terlalu lama hingga waktu bosan mengingatnya. Atau kamu berniat mengingat yang ini: saat aku menghambur di bahu hangatmu karena acara kita terusik izin yang lama cair?
Masih tidak ingat apapun tentang aku dan kamu? Cobalah, ingat yang ini: saat aku bersuara keras cenderung menghardik agar kamu melakukan ini dan itu?
ahh, sekali lagi, maafkan aku bila hal terakhirlah yang paling kamu ingat, aku sebenarnya ingin memahami kamu, kamu, dan kamu satu persatu, namun begitu banyak tapi saat itu, hingga baru sekarang aku tau bahkan lebih dari tau bahwa kamu yang sebaya denganku dan kamu yang tak seberapa tahun lebih muda dariku adalah orang hebat.

Apr 20, 2013

Jawaban Tentang Aku dan Kamu

Diantara sekat yang menggelar jerat di setiap ujungnya.
Taukah? bila aku adalah orang yang paling tau mengenai seberapa dalamnya lembah dan ngarai yang membentukmu.
Membentuk satu, dua, tiga, dan sekian banyak angkamu, aku adalah yang paling tau.
Aromamu masih menebar wanginya padma, tentang jawaban kamu dan aku semalam, yang melulu diam

Misykat

Lewat pelita terang di ujung kamarmu.
Sebelahnya gelap terhalang kisah dan kisruh.
Lukisan yang berirama Van Gogh juga menyiratkan jeli di sebelah sisinya.
Langkahmu perlahan terhenti membenahi sekat yang tersesat.
Terjebak semacam kesal dan sesal yang malu-malu beradu.

Apr 13, 2013

Tuhan Sedang Cemburu

Merindu syahdu keheningan yang beradu, masih saja aku mencari senoktah ketenangan atau sepenggal guratan senyum agar kebahagiaan segera menyapa, melambaikan asa yang kepayahan mencariku, Telinga ini sepertinya teramat keruh saat Tuhan berkali-kali menyuruhku untuk terus mengingatNya agar hati ku terjaga, agar cintaNya terpelihara.

Tuhan mungkin sangat pencemburu, hingga berulang kali berbisik jangan pernah meninggalkanNya, meski hitam tengah menghujam, meski sendu beradu pilu, meski bahagiaku menggelayut syahdu.

Kadang aku berfikir Tuhan sedang sebal  dengan alasan-alasan bebal saat aku enggan bercengkerama dan bermanjaan denganNya, tapi selalu saja Tuhan punya cara menyentuhku pada titik paling dalam ditempat paling menentramkan.

Meski begitu tak pandai membalas cinta kasihMu, walaupun tak cerdas dalam memenuhi hak-hak Mu, aku akan menjadi hambaMu yang selalu saja berusaha menjadikan Engkau alasan disetiap hal-hal baik, menjadikan Engkau satu-satunya yang harus dipercaya hingga kematian membawaku kembali dalam peraduan Mu.

Mar 16, 2013

Cap-Cip-Cup

Tak punya kosa kata yang cukup bila harus meluruhkan mulut-mulut dendam yang kian sirik menghujam menajam, terlalu sempit memikirkan apa besok maut masih enggan untuk menjemputku pulang, keperaduan, pangkuan Tuhan.

Mungkin nasib  masih cap-cip-cup mana dulu yang harus diambil dan  diberikan untukku, atau bahkan  nasib masih memutar jarum agar dia behenti sendiri ditempat yang diinginkan, bisa baik, bisa sangat baik, atau bahkan amat sangat baik. Mengapa tak ada yang buruk? karena aku tau Tuhanku itu slalu baik, memilihkan jalan baik dan apa-apa yang terbaik.

Meski sedikit berliku, turun, naik dan menikung, itu tandanya Tuhan tak ingin melihatku menyia-nyiakan yang sedikit itu. Karena pasti, pasti disetiap persimpangan yang ditemui ada rempah-rempah pahit yang akhirnya menjadi baik, dan gula-gula manis yang akan menjadikan sejengkal likunya lebih manis

Jan 6, 2013

Ummati

Sebenarnya bukan miris saat melihat seorang teman berkata-kata bahwa dia tidak percaya Tuhan namun sejurus kemudian dia mengatakan perbuatannya menghambur-hamburkan uang itu berdosa, ini semacam rasa kasihan dengan pola pikir didalam rongga kepalanya yang sebenarnya harus segera dibenahi, menurutnya siapa yang memberi dosa dan pahala? ilmuwan? atau apa?

Kasihan lagi saat beberapa anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar yang kutafsir umurnya belum mencapai 10 tahun mengatakan bahwa temannya yang masih seumuran dengannya sudah minum-minuman keras dan merokok, tak hanya itu, salah satu dari mereka juga mengatakan bahwa rumahnya lah yang dipakai untuk mabuk, ternyata belum selesai, anak-anak lugu itu berkata bahwa tetangga mereka yang umurnya sudah renta bangga pada tato yang dimilikinya, bahkan mentato hampir seluruh alat geraknya

Apa mereka tidak tahu bahwa ada seorang yang sangat menyayangi muslim yang terlalu melenceng tersebut, ada orang yang benar-benar mengasihi mereka, mencintai mereka sepenuh jiwa hingga akhir hayatnya beliau bukan memanggil istri atau anak-anaknya, tapi "ummati, ummati, ummati", umatku, umatku, umatku, hingga beliau rela mengatakan bahwa ingin memindahkan sakitnya sakaratul yang akan dialami umatnya pada diri Baginda Muhammad SAW
Terlihat rumit memang, tapi jika dirumitkan dengan sesuatu yang berwarna bukankah menyenangkan?



Harmoni Abu-Abu

Seperti berjalan dikejauhan, melihat keriput pun matanya masih terbuka lebar, jalannya yang terseok juga menunjukkan harmoninya kehidupan yang sekarang, bukan dulu, saat Ia masih muda dan menjadi bunga, sebenarnya, yang dibutuhkan bukan satu atau dua muka kencang tapi segenggam linangan perhatian

Hidup itu katanya hanya putih dan hitam, hanya gelap dan terang, bila habis gelap maka terbitlah terang, berarti ini bukan hidup bila sisanya akan selalu terang benderang, putih dan hitam juga andil dalam diri wanita renta itu, dia hanya berceloteh bahwa semuanya abu-abu, karena kini yang putih sudah ternoda dan yang hitam sering menyembunyikan diri dalam putih yang memalsukan

Bila masalah terbesarnya adalah hidup mungkin hidupnya sedang kehilangan cairan asa, bila masalah terbesarnya adalah malas berarti Tuhan benar bahwa semua juga akan sia-sia, asap kembali serbakkan kemilau jingga yang berlabuh menjadi hitam pekat, bukankah ini hidup? ternyata bukan hanya tentang putih benderang atau gelap menghitam, masih ada jingga diselanya masih tersimpan fajar di ufuknya

Nenek yang kini tinggal sendiri itu mungkin tak pernah digenggam senja hingga hidupnya abu-abu, atau mungkin dulu hidupnya penuh dengan merah, kuning, biru yang kini telah luntur dicuri waktu?

Jan 4, 2013

mimpi

Satu lagi hal yang akan membuatku hidup adalah mimpi, yang kini pun sedang aku tiduri untuk melanjutkannya, sebenarnya kelemahanku hanya satu terlalu canggung untuk memulai dan mengulangi, untuk mengerti dan memahami

Bahkan tamparan setengah tahun lalu belum juga membuat canggung ku hilang,