Aku menununtut sendiri rinduku, membuat laporan mengenai
hal-hal tidak mengenakkan yang ia timbulkan.
Aku membagi gelisah ku sendiri, membuat apa yang tersentuh
semakin mencekam, berakhir di peti-peti harapan.
Tak ada satupun yang mengerti, aku bukan gila, aku tak alami
apa itu yang dinamakan orang-orang dengan depresi, aku hanya sedang menikmati
rindu membuat ujung-ujung kuku menguning lalu memerah penuh darah.
Aku sedang menikmati keadaan bilik kosong yang ditinggalkan
si empunya beberapa waktu lalu, dibilik itu ada namaku, ada namanya, bergandeng
dalam satu deret kalimat.
Kujelajahi sejengkal demi sejengkal huruf yang membentuk
namaku dan namanya, berwarna merah hati, bergaris tegak tak tersambung dan
dipisahkan dengan satu simbol yang membuat aku dan dia terpisah, tidak jauh, namun itu cukup untuk membuat nya
menyandang jarak denganku.