Sep 12, 2012
Addiction
Semuanya menjadi kaku seperti air yang terkena hawa dingin lalu membeku,
aku lumpuh memandangmu, mati-matian kutepis rasa ini agar tak terjerumus ke hulu pilu
kecanduan, mungkin hanya kata itu yang dapat menggambarkan asa ku,
candu perhatian dan kabarmu hingga kini tak dapat sekalipun kubiarkan,
terus-menerus mendoktrin diri sendiri, menginginkan hal normal tanpamu, nyatanya gagal dan gagal lagi.
Sudah sekian hari hidupku dipenuhi kemampuanmu untuk memperhatikanku, aku layu dengan sejuta kata yang dirangkai untuk hanya sekedar mendengar keluhanku.
Rasa ini tak boleh berlanjut, tak boleh!
atau aku hanya akan membuat semuanya menjadi tak mudah dilupakan lagi,
belum cukup pengalamanku untuk merasakan sakit darimu, ya karna memang tak pernah sedikitpun kau lakukan itu.
Saat kekhawatiran mulai merasuk tanpa kabar darimu, aku sendiri merasa konyol seperti badut taman bermain yang hanya bisa menari kesana kemari, kegelisahanku membuat zat semacam nikotin yang menjadi candumu bertambah banyak, beranak pinak, menggelayuti semua organ hingga lemas.
Sebenarnya aku hanya takut semuanya tak sejajar, tak ada timbal balik untukku terhadap candumu, aku pernah merasakan nya sebelumnya bukan dengan mu, hanya sakit dan meninggalkanku.