Kepada anak yang mencoba menjadi Uwais Al-Qarni, bersyukurlah masih ada kesempatan itu.
Bila tanganmu letih karena mengerjakan semua yang biasanya dikerjakan ibumu, maka bersyukurlah.
Bila kakimu kaku sebab kesana-kemari mengurus ibumu, tersenyumlah.
Bila pikiranmu terbelah, antara Ibu dan kuliahmu, Allah akan membantu.
Seluruhnya, sepenuhnya, semuanya. Berbahagialah.
Pernah berniat ingin ingin melakukan ini dan itu, ah tapi ibu sudah sepuh.
Mimpi setinggi langit hendak terbang kesana dan kemari, ah tapi siapa yang membantumu bu?
Angan diatas awan memiliki rumah jauh dari sini, ah tapi bagaimana denganmu bu?
Iri yang lain dapat mengikuti kegiatan ini dan itu, ah tapi ibu sedang sakit.
Karena menurut Rasul yang harus dihormati adalah Ibumu.... Ibumu... Ibumu....
Peluklah Ibu yang sudah sepuh dalam dekapan terhangatmu, Allah menjanjikan pintu surga untuk para pemeluk sejati.
Jadilah si kecil Ismail yang penurut pada orang tuanya.
Atau jadilah saja Sayyidina Ali Zainal Abidin yang begitu menjaga hati ibunya.
Kalau kau tanya aku, aku hanya ingin lulus tepat waktu, Semoga Allah merahmati umur panjang untuk beliau agar bisa melihat putrinya bergelar sarjana.
Kalau kau tanya aku, aku hanya ingin ibu selalu sehat, tidak lelah dan letih. bukan aku tidak ingin melakukan ini dan itu, tapi aku ingin menjadi pemeluk sejati, memeluk ibuku.
Kalau kau tanya aku, aku lelah? sebagai orang biasa iya aku lelah. Tapi Allah memberikan kesempatan emas yang tidak semua orang miliki, kata orang kesempatan tidak datang dua kali, aku masih ingin jadi pemeluk sejati, memeluk ibuku.
Nov 5, 2014
Aug 29, 2014
Pengakuan Terlarang: Pernah Alay
Masih seputar blog yang baru saja diisi kembali dengan deretan tulisan. Kali ini kembali berkaca dengan tulisan-tulisan masa lalu. Entah itu di blog ini, status facebook, twitter atau lainnya. Membuat geli pada diri sendiri sudah tentu melanda, lalu terambil sebuah kesimpulan dan pengakuan: Saya dulu pernah Alay.
Setidaknya sekarang saya sudah menjadi Mantan Alay, mungkin status mantan alay juga melekat pada diri anda, setelah menengok semua ke-alay-an saya di blog ini, silahkan tengok atau bahasa kerennya stalking media sosial yang anda punya, mulai dari awal anda memiliki akun tersebut hingga anda merasa cukup.
Sudah? bagaimana hasilnya? Mantan alay atau Orang yang tidak pernah alay?
Sebenarnya pemaknaan alay itu relatif menurut individunya masing-masing. Jadi bagaimana definisi alay menurut anda? menurut saya orang yang setiap ibadah dan kebaikan yang dilakukan itu diunggah di media sosial itu sudah alay, berkomentar yang tidak perlu tanpa berfikir bahkan sampai menjelekkan orang atau pihak tertentu itu juga sudah cukup alay. Lain bila maksutnya untuk bercanda dan ditujukan pada orang dekat.
Pada dasarnya ke-alay-an itu berbanding lurus dengan usia, tingkat kedewasaan, dan tingkat kebosanan menggunakan akun jejaring sosial. Jadi, mari mulai membenahi tulisan-tulisan kita dimanapun, bukan hanya tentang pencitraan tapi sharing hal-hal yang berguna akan lebih bermanfaat dan memaksimalkan potensi media sosial daripada menampilkan sesuatu yang tidak jelas.
gambar diambil dari: ABG alay | Blog-blogan
Aug 28, 2014
Perlahan Menjadi Baik
Selamat sore pembaca, sudah lama saya tidak menuliskan sesuatu disini, ditempat pertama saya menuliskan kisah.
Alhamdulillah Allah selalu memberi saya nikmat-Nya hingga sampai sekarang pun saya bisa kembali menuliskan sesuatu disini.
Awalnya, saya mengunjungi blog ini untuk menghapus beberapa pos yang terbaca menyedihkan, namun saya urungkan agar menjadi pelajaran untuk saya sendiri bahwa terlihat menyedihkan, mengajak orang lain untuk bersedih, menggalaukan orang lain itu sungguh tidak berarti.
Alangkah baiknya jika blog ini saya gunakan untuk membagi sesuatu yang bermanfaat, untuk belajar bersama dan untuk apapun yang bisa menghantarkan saya dan anda kepada yang lebih baik.
Ini adalah website milik guru saya sewaktu menjalani Praktek Industri yang memberikan saya pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan itu memang harus bermanfaat bagi agama, orang lain dan diri sendiri. Bila sempat saya sangat senang anda juga membaca dari website jempolan ini Namaku Wirawan, Adi Wirawan
Alhamdulillah Allah selalu memberi saya nikmat-Nya hingga sampai sekarang pun saya bisa kembali menuliskan sesuatu disini.
Awalnya, saya mengunjungi blog ini untuk menghapus beberapa pos yang terbaca menyedihkan, namun saya urungkan agar menjadi pelajaran untuk saya sendiri bahwa terlihat menyedihkan, mengajak orang lain untuk bersedih, menggalaukan orang lain itu sungguh tidak berarti.
Alangkah baiknya jika blog ini saya gunakan untuk membagi sesuatu yang bermanfaat, untuk belajar bersama dan untuk apapun yang bisa menghantarkan saya dan anda kepada yang lebih baik.
Ini adalah website milik guru saya sewaktu menjalani Praktek Industri yang memberikan saya pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan itu memang harus bermanfaat bagi agama, orang lain dan diri sendiri. Bila sempat saya sangat senang anda juga membaca dari website jempolan ini Namaku Wirawan, Adi Wirawan
Subscribe to:
Comments (Atom)
