May 31, 2013

Menjelang Tengah Malam

Aku akan berada disana saat digariskan untuk menemukanmu, aku juga akan berada disana saat digariskan untuk ditemukan olehmu. Lalu langkah-langkah kita sejajar untuk memeluk sama erat jadi satu.

Awalnya aku dan kamu tidak saling kenal pun mengenal, awalnya aku dan kamu tak punya kadar yang sama untuk saling hidup menghidupi.

Seiring dengan lolongan maut yang kian keras kita saling menyapa, saling mengeluhkan duka, dan saling menukar canda, dan akhirnya aku dan kamu menjadi kita.

Dibawah lirik hujan yang mampu memasygulkan senyummu aku meraih nafasmu, menjiplaknya kedalam album biru yang tiap gambarnya terselip doa agar hidup tak selamanya abu-abu.

May 19, 2013

Tulari Mbak Semangat Kalian

Melihat riuhnya masjid dengan calon-calon orang besar yang sedang berlarian kesana kemari, bebas mengungkap kegembiraan mereka dengan kekeh tawa yang serasa tanpa beban atau mungkin memang beban tak hinggap di bahu-bahu mungil mereka. Namun seringnya aku yang telah lebih dewasa dari mereka malah merasa terganggu dengan tawa bahagia yang mereka alunkan.

"Kalau gak niat ngaji pulang aja mas!" seruku dengan suara yang lebih besar dari biasanya, lalu keadaan hening, dia duduk tanpa dendam dengan perkataanku, kini aku yang merasa bersalah telah mengeluarkan kalimat yang seharusnya tak perlu terumbar bebas seperti itu, dan sejurus kemudian setelah sedikit menyenggol temannya salah seorang calon pemimpin tangguh itu berlarian lagi.

Duuh deek, mbak minta maaf sering emosi dengan keriangan kalian, bukankah seharusnya mbak juga harus larut dalam keriangan kalian? berbaur jadi satu hingga kalian merasakan Taman Pendidikan Al-Quran yang nyaman.

Terus ajari mbak ya dek, ajari mbak semangat ngaji seperti yang kalian punya, semangat untuk mengenal Allah seperti yang kalian tunjukkan, yang terlihat bebas dan tanpa beban.

Meski kadang hanya berdua, bertiga atau sendirian mendampingi kalian, rasa kesal dan hal buruk lainnya serasa hilang saat kalian dengan penuh semangat memegang Iqro dan saling berebutan berkata 'mbak aku duluan, aku duluan'.

Ahh deek, sekali lagi maafkan mbak-mbak dan mas-mas pendampingmu ini ya, yang lebih sering bersuara keras dari pada mengelus lembut, yang lebih sering malas daripada berjuang keras membantu kalian mengenal Allah.

Dek, doakan kami ya, supaya tetap istiqomah menunaikan amanah menjadi pedamping kalian, memberikan kalian tempat dan suasana yang nyaman untuk berjuang menggapai jannah, semoga Allah meridhai setiap nafas yang kami hembuskan saat bersama-sama kalian, lalu menjadikan kita satu lagi di Jannah nanti.



May 16, 2013

Ah Buu

Bu, dengarkan aku barang sejenak, meski aku anakmu yang paling sering membantah, meski aku anakmu yang paling sering membebani hatimu, hingga rasanya aku anakmu yang paling sering pula engkau sentuh dengan suara keras.

Bu, taukah ibu hatiku sedang terluka? kemarin aku ingin menangis dipelukan seseorang, namun kini aku hanya ingin ibu tau bahwa aku ingin Ibu sentuh dengan sejumput senyum manismu.

Semua salah dan keluhku mungkin menutupi penglihatasn ibu bahwa aku juga mau senyummu, ah buu, aku berharap Ibu terus sehat, dan selalu bersabar dengan semua tingkahku.

Buu, aku ingin meninggalkanmu barang sejenak, agar aku tau betapa berartinya dirimu, agar ibu tenang sejenak tanpa aku disisimu.

May 15, 2013

Diamlah, Berikan Saja Bahumu

Bila boleh aku ingin sebentar saja meminjam bahu siapa pun  sekedar menyandarkan keluh, bila boleh lebih, aku ingin menangis tersedu-sedu dibahumu agar khawatir ini hilang, atau bila boleh, cukup hentikan aku dan mulai lah memelukku, saat tangisku mulai pecah saat peluhku mulai buncah diamkan saja, aku hanya butuh bahumu.

Aku jatuh lagi, seperti yang sudah kamu tau aku gampang dijatuhkan.
Aku mengeluh lagi, seperti yang sudah kamu tau.

Bila bisamu hanya mengatakan 'ada yang bernasib lebih buruk' itu hakmu. Tapi setelah itu berikan saja bahumu, dan semua selesai dengan tangis yang mengharu membasahi lengan bajumu.

May 14, 2013

Lalu? (II)

Manyusuri setiap sajak luka yang kau buat semalaman, aku tau ketidak sengajaanmu yang terus menerus itu yang membuatnya lebih menanah dan mendarah.
Dan, satu lagi lara mengumpat-umpat, seakan terik tak mampu buatnya berhenti, sekaan dingin membuatnya semakin berenergi.
Waktu melambat, atau aku saja yang mengalahi siput, merasakan nanar disetiap ujung kulit.

Lalu?


Langit kian Gelap, mengusap-usap mendung manja mengalahkan cahaya.
Lalu, dibawah balutan meganya si gadis menuliskan citanya.
Psikolog hebat.
Sudah, tanpa titik atau koma dan penjabaran lainnya.