Senyum mulai tersungging sambil menelaah semua deret huruf yang tak tercetak tebal di layar terang,
Habiskan ratusan detik untuk kembali bersua setelah sekian lama,
Bukan asmara yang bergejolak di relung yang biasa disebut hati,
Hanya sehelai kecil kekaguman yang memuncak, berpuas untuk dilepaskan,
Memang aku yang memulai, tapi apa salahnya?
Berproses melalui limit-limit kecil hingga bilangan satuan yang tak berujung dari nol,
seperti aku melihat dan merasakan semuanya, tak dari nol, langsung menuju angka ratusan, bila semua dijumlahkan akan menjadi gundukan besar angka untuk menilaimu.
Berulang kembali, kali ini bukan dengan bibir tersungging, bukan dengan alunan senyum. ternyata bukan hanya kagum, sedikit demi sedikit merangkak menjadi sakit, mulai paham semua nya bisa berbolak balik.
tulisan yang tak tercetak tebal pula lah dalang semua kebuntuan ini, layar terang juga membantu seperti sinden yang menyanyikan benih pilu. Ingin pula kuakhiri dengan mengurangi semua gundukan nilai hingga surut menjadi sebatas garis tipis. semunya berjalan dengan rasa pedih saat tuts-tuts keyboard mulai tersentuh membentuk rangkaian kalimat, mengerti semua akan ada akhir dan batasnya, sepertinya batasku hanya sampai disini, terhenti atau menghentikan diri terlalu tipis untuk kuketahui.
