Oct 30, 2012

Merahku Dulu

Katamu ingin melihat hujan denganku?
Katamu tak usah menangis saat ribuan sedih menerpa.
Jingga pilu juga tau bagaimana merah ini untukmu.

Kupilih lagu sendu untuk memilin rindu,
Menghiasi latar-latar penuh air,
Menerawang balerina yang kuyup dengan tayub-tayub asmara,

Sepertinya matamu memang terlalu sipit merasakan merah ku dulu.
Sepertinya kulit putih mu memang terlalu tebal untuk sekali saja menyentuh bebal nya merahku dulu.
Sepertinya tubuh jangkung kurus mu memang terlalu tinggi untuk sekali saja merendah merasakan merahku dulu.

Dan sepertinya hatimu juga sudah bukan tempat merahku lagi.

Rumah Kertas


Buat saja musiknya berdendang seirama dengan rumah bercelcius rendah ini,
lanjutkan potongan kayu mu sayang,
aku akan menghias cawan-cawan kelabu milik kita dengan arang-arang legam dari potongan terakhir kayumu.

Jangan takut api takkan menghanguskan rumah kertas mungil kita,
setiap lapisannya telah dialuri dan dialiri rasa,
persis sama seperti hangat saat timangan sayangmu mengayun membelai pipiku yang mulai beku.

Ah sudahlah bila api benar ingin menghanguskan rumah kertas ini. Aku takkan menghalanginya,
asal tak membakar aku dan kamu saja dengan kenangan.

Rumah kertas berpoles merah jambu yang didempul dengan semen kelabu ini sekokoh tangan dan bahumu ketika menopang tubuhku dalam qobul semusim lalu.

Kini lihatlah, betapa terik jaman telah menyengat aku dan kamu bersamaan, rambutmu mulai memutih begitu juga aku, keriput mulai berlekuk di ujung-ujung kulit samping mataku begitu juga kamu, dan gadis serta lelaki kita telah mencari sandaran baru selain aku dan kamu.

Menggulung ke beberapa jeda lalu saat kamu masih menemukanku malu-malu dipelukan ibu.
Sepertinya mata elangmu juga tak tau dibalik itu aku menyimpan rindu.

Oct 21, 2012

Aku Dan Kamu?


Aku menununtut sendiri rinduku, membuat laporan mengenai hal-hal tidak mengenakkan yang ia timbulkan.
Aku membagi gelisah ku sendiri, membuat apa yang tersentuh semakin mencekam, berakhir di peti-peti harapan.

Tak ada satupun yang mengerti, aku bukan gila, aku tak alami apa itu yang dinamakan orang-orang dengan depresi, aku hanya sedang menikmati rindu membuat ujung-ujung kuku menguning lalu memerah penuh darah.

Aku sedang menikmati keadaan bilik kosong yang ditinggalkan si empunya beberapa waktu lalu, dibilik itu ada namaku, ada namanya, bergandeng dalam satu deret kalimat.
Kujelajahi sejengkal demi sejengkal huruf yang membentuk namaku dan namanya, berwarna merah hati, bergaris tegak tak tersambung dan dipisahkan dengan satu simbol yang membuat aku dan dia terpisah,  tidak jauh, namun itu cukup untuk membuat nya menyandang jarak denganku.

Oct 19, 2012

Manusia

Tak melulu tentang rindu aku menghias layar semu,
sebab tanpa merindumu aku juga tuai pahitnya jamu.

Tak melulu tentang cinta aku ramaikan suasana,
karena lima bilangan apa aku harus ketinggalan?

Tak melulu tentang sakit aku menderma berbalas irit,
jadikan nyata didepan mata semakin terhimpit.

Tak melulu tentang si tampan aku berbela sungkawa sungguh membela harap saja,
buat aku jadi takjub bukan termaktub.

Hanya melulu soal Tuhan aku tertawan dengan miliaran tumpuk heran,
heran mengapa Tuhan sangat menakjubkan.

Jogjakarta~

Oct 18, 2012

bagaimana pesona ini bisa menyapaku hanya lewat tulisan menawan dari papan keyboardnya?

Oct 11, 2012

Takut Hingga Menggelayut


Bisa menjadi berbeda, bisa menjadi luar biasa, hanya bisa...
Tak lupa disematkan semacam pucuk dari lengkungan berbentuk tanda tanya.
Memang tak dinyana banyak yang akhirnya bergelayutan menuai tuk diwujudkan hingga tua.
Mulai dari bilangan kecil di Bulak Sumur dan berakhir menuju Rapenburg.

Sengatan-Sengatan akan membentuk teluk,
Hiruk pikuk mulai menyerudukt,
terik diatas sepatu-sepatu kinclong manusia penduduk gedung rakyat hingga runtuhnya rezim, tamat.
Aku inginkan

Butuhan bantuan, butuh penyelesaian, dan butuh pelukan.
Dingin, nanar, sepi, takut, menggelayut.
Seolah-olah si singa yang lebih sering terlihat garang kini juga menangis,
menahan perih.

Oh! ada Tuhan, ada Tuhan!
Mencari Tuhan, berharap dapat pelukan hangat, hingga tidur dan tak bermimpi lagi.
Aku hanya sedang di genggaman paling kecil saat sebuah kata "Putus Asa" bernaung.

Oct 3, 2012

Karena Aku Wanita


Aku wanita perlu sejenak bertanya pada dunia, ini kenapa?
Aku wanita perlu sejenak menangis mengeluarkan semua yang miris.
Aku wanita berharap dipeluk dengan canda tawa.

Pernah aku lelah menangis lalu aku tertawa,
tawa itu simpul berbaur mandul bersama canda.
Benar-benar tertawa, terbahak bahkan.

Ada artinya? sedikitpun tidak.
Sekedar penghilang jalanan padam.
Sekedar penyemangat wanita muram.

Oct 1, 2012

Kain



Tak boleh ada yang menginjak genangan air itu,
tak ku ampun saat pakaian-pakaian bersih tergantung itu menghitam dengan bercak tanah.

Kenapa jadi terlalu merah meranum penuh amarah?
Aku merajutnya dengan benangku sendiri,
aku menantang alam hanya untuk cuil-cuilan kapas yang bertaburan dihempas lilitan topan.
Aku memintalnya memakai semua sisa tenaga yang habis untuk menghadang topan,
hingga goresan luka tak ada yang sebesar lidi, semua menganga nampak daging dan sendi.

Hanya seperti itu?
Tidak, masih ada lagi, aku menjahitnya dengan sisa kasih yang kupendam
dan kini butuh isi ulang hanya untuk menyatukan yang awalnya benang.
Putih ini menawan menghitung dengan sederet akal pun tak mempan digunakan,
menyaingi paras bersih untuk si gagah di balik lembah.

Kain berwarna putih tergenggam lembut disampirkan untuk yang terkasih,
membelai-belai benih menadah langit meminta titik-titik air agar segera berguguran,
timbul sebuah lengkungan kain yang termaktub dalam sambungan rihlah.

Putih ini guna yang terkasih, tak percaya atau hanya menduga?
ini nyata, sungguh percayalah,
aku terbawa hati, lalu dia pergi.

Bulir-bulir siksa mulai menyapu-nyapu, tertegun pada kepiluan tak berujung
menunggu rindu yang entah dia yang membawa hati ini merasakan rindu sehelai kain berparas nanar atau tidak.

Jogjakarta~