Apr 30, 2013

Kita Tanpa Jarak

Takutku bila tak sempat tuliskan saat-saat bersama kalian, beberapa kepala berbeda pemikiran yang tentunya berbeda tujuan juga, namun aku tau kita saling memangkas ego masing-masing agar  tak saling menuliskan pedih mengukir sedih.

Pernah kalian melihatku menangis begitu juga aku pernah melihat kalian menangis, tentu dengan masalah yang berbeda, namun, anehnya kita bisa saling tertawa atau menertawakan hal yang sama, bahkan menertawakan satu sama lain, dan tak ada luka bila kita saling menertawai.

Bila yang satu sedang berapi-api yang lain siap menjadi air dan embun, bila yang satu sedang diam yang lain siap menjadi radio rusak tak tau letak untuk berisik, beruntungnya tak hanya ada dua kepala diantara kita, jika pecah tak ada lem diantara kita berdua, jika hampir jatuh tak ada yang rela bergelayut untuk menggapai kita.

Mungkin kita bertemu ditempat yang tak disangka namun tentu kita tak kan berakhir bila hanya terpisah jarak dan angin, hatiku sudah diikat kuat-kuat oleh Tuhan agar tak berhenti hidup bersama kalian. Ini hanya masalah waktu, bila Tuhan berkenan pasti kita akan disatukan lagi dalam tempat yang jauh lebih  indah dan baik.

Sedekat itukah? iya, menurutku, lebih lagi aku berharap kalian juga.

Suatu saat nanti, saat kita sudah sama-sama besar dan hebat, saat orang tua kita sudah membanggakkan kita kesana-kemari, kita akan berkumpul dan menertawakan kisah yang ini dan itu, menertawakan kenapa dulu kita menamai seseorang dengan julukan aneh, menertawakan pertanyaan jorok saat sedang melahap makanan, menertawai foto seseorang yang terlihat tidak lucu bahkan sama sekali tidak lucu. dan menertawakan kata 'padahal' yang kita sambung dengan kalimat ambigu.

Apr 29, 2013

Maaf Dariku Untukmu

Tersisa setitik senyum diwajah-wajah lelah, lamanya proses menjadikan kita tua dijalan yang tak mengerti bahwa aku dan kamu sempat tersandung peluh dan keluh.
Maaf bila mulutku jarang berucap manis, Maaf bila tabiatku tak nyamankan hatimu, namun aku dan kamu akan selalu menjadi kita, kita yang dulu pernah satu.
Ingatkah? dulu kamu dan aku pernah berbagi satu kertas, aku menuliskan namamu dan kamu menuliskan namaku disebuah deretan ke-panitia-an, masih ingat?
Mungkin untukmu itu sudah terlalu lama hingga waktu bosan mengingatnya. Atau kamu berniat mengingat yang ini: saat aku menghambur di bahu hangatmu karena acara kita terusik izin yang lama cair?
Masih tidak ingat apapun tentang aku dan kamu? Cobalah, ingat yang ini: saat aku bersuara keras cenderung menghardik agar kamu melakukan ini dan itu?
ahh, sekali lagi, maafkan aku bila hal terakhirlah yang paling kamu ingat, aku sebenarnya ingin memahami kamu, kamu, dan kamu satu persatu, namun begitu banyak tapi saat itu, hingga baru sekarang aku tau bahkan lebih dari tau bahwa kamu yang sebaya denganku dan kamu yang tak seberapa tahun lebih muda dariku adalah orang hebat.

Apr 20, 2013

Jawaban Tentang Aku dan Kamu

Diantara sekat yang menggelar jerat di setiap ujungnya.
Taukah? bila aku adalah orang yang paling tau mengenai seberapa dalamnya lembah dan ngarai yang membentukmu.
Membentuk satu, dua, tiga, dan sekian banyak angkamu, aku adalah yang paling tau.
Aromamu masih menebar wanginya padma, tentang jawaban kamu dan aku semalam, yang melulu diam

Misykat

Lewat pelita terang di ujung kamarmu.
Sebelahnya gelap terhalang kisah dan kisruh.
Lukisan yang berirama Van Gogh juga menyiratkan jeli di sebelah sisinya.
Langkahmu perlahan terhenti membenahi sekat yang tersesat.
Terjebak semacam kesal dan sesal yang malu-malu beradu.

Apr 13, 2013

Tuhan Sedang Cemburu

Merindu syahdu keheningan yang beradu, masih saja aku mencari senoktah ketenangan atau sepenggal guratan senyum agar kebahagiaan segera menyapa, melambaikan asa yang kepayahan mencariku, Telinga ini sepertinya teramat keruh saat Tuhan berkali-kali menyuruhku untuk terus mengingatNya agar hati ku terjaga, agar cintaNya terpelihara.

Tuhan mungkin sangat pencemburu, hingga berulang kali berbisik jangan pernah meninggalkanNya, meski hitam tengah menghujam, meski sendu beradu pilu, meski bahagiaku menggelayut syahdu.

Kadang aku berfikir Tuhan sedang sebal  dengan alasan-alasan bebal saat aku enggan bercengkerama dan bermanjaan denganNya, tapi selalu saja Tuhan punya cara menyentuhku pada titik paling dalam ditempat paling menentramkan.

Meski begitu tak pandai membalas cinta kasihMu, walaupun tak cerdas dalam memenuhi hak-hak Mu, aku akan menjadi hambaMu yang selalu saja berusaha menjadikan Engkau alasan disetiap hal-hal baik, menjadikan Engkau satu-satunya yang harus dipercaya hingga kematian membawaku kembali dalam peraduan Mu.