Oct 30, 2012

Rumah Kertas


Buat saja musiknya berdendang seirama dengan rumah bercelcius rendah ini,
lanjutkan potongan kayu mu sayang,
aku akan menghias cawan-cawan kelabu milik kita dengan arang-arang legam dari potongan terakhir kayumu.

Jangan takut api takkan menghanguskan rumah kertas mungil kita,
setiap lapisannya telah dialuri dan dialiri rasa,
persis sama seperti hangat saat timangan sayangmu mengayun membelai pipiku yang mulai beku.

Ah sudahlah bila api benar ingin menghanguskan rumah kertas ini. Aku takkan menghalanginya,
asal tak membakar aku dan kamu saja dengan kenangan.

Rumah kertas berpoles merah jambu yang didempul dengan semen kelabu ini sekokoh tangan dan bahumu ketika menopang tubuhku dalam qobul semusim lalu.

Kini lihatlah, betapa terik jaman telah menyengat aku dan kamu bersamaan, rambutmu mulai memutih begitu juga aku, keriput mulai berlekuk di ujung-ujung kulit samping mataku begitu juga kamu, dan gadis serta lelaki kita telah mencari sandaran baru selain aku dan kamu.

Menggulung ke beberapa jeda lalu saat kamu masih menemukanku malu-malu dipelukan ibu.
Sepertinya mata elangmu juga tak tau dibalik itu aku menyimpan rindu.