Oct 1, 2012
Kain
Tak boleh ada yang menginjak genangan air itu,
tak ku ampun saat pakaian-pakaian bersih tergantung itu menghitam dengan bercak tanah.
Kenapa jadi terlalu merah meranum penuh amarah?
Aku merajutnya dengan benangku sendiri,
aku menantang alam hanya untuk cuil-cuilan kapas yang bertaburan dihempas lilitan topan.
Aku memintalnya memakai semua sisa tenaga yang habis untuk menghadang topan,
hingga goresan luka tak ada yang sebesar lidi, semua menganga nampak daging dan sendi.
Hanya seperti itu?
Tidak, masih ada lagi, aku menjahitnya dengan sisa kasih yang kupendam
dan kini butuh isi ulang hanya untuk menyatukan yang awalnya benang.
Putih ini menawan menghitung dengan sederet akal pun tak mempan digunakan,
menyaingi paras bersih untuk si gagah di balik lembah.
Kain berwarna putih tergenggam lembut disampirkan untuk yang terkasih,
membelai-belai benih menadah langit meminta titik-titik air agar segera berguguran,
timbul sebuah lengkungan kain yang termaktub dalam sambungan rihlah.
Putih ini guna yang terkasih, tak percaya atau hanya menduga?
ini nyata, sungguh percayalah,
aku terbawa hati, lalu dia pergi.
Bulir-bulir siksa mulai menyapu-nyapu, tertegun pada kepiluan tak berujung
menunggu rindu yang entah dia yang membawa hati ini merasakan rindu sehelai kain berparas nanar atau tidak.
Jogjakarta~