Dec 21, 2012

Lidahku Beku, Bu

Maafkan bila setiap saat tak ada yang bisa dirindu dariku, beku belum juga cair untuk mengucap maaf padamu Ibu. Seperti kata Fasih yang terkadang sering menusuk-nusuk nadi ku saat suaranya mulai terdengar  melantunkan "Maaf, bu. Maaf karena kata maaf pun membisu dibibirku". Padahal aku tau disetiap desir doamu terdapat namaku yang sengaja Ibu buatkan jalan yang paling lebar menuju ijabah Tuhan.

Tuhan juga tau aku terisak saat ibu menyebutkan mimpiku dalam doa, sentuhan hangat tanganmu sebenarnya selalu berhasil membuat kedinginan senja di pelupuk-pelupuk mata papa sepertiku menjadi hangat kembali, malangnya, ke-sepuluh jari tanganku tak sanggup membalas belaianmu, terlalu berat bu.

Sudah kubilang akan kubangunkan istana di syurga nanti, tapi disini saja saat ibu masih bersamaku, maaf pun hanya secuil demi secuil yang terlontar, ingin rasanya peluh yang membuat ibu nampak kepayahan itu kuseka dengan cinta seperti yang ibu lakukan dulu padaku.

Maaf bu, selalu saja hanya aku yang tak bisa melambaikan sepucuk cinta untukmu, lengkingan suaramu karna aku juga semakin sering saja terdengar, sabarlah bu, aku memang yang tak tau malu menyusahkanmu sepanjang waktu.

Maaf bu, aku hanya bisa berdoa agar raga mu sehat selalu, agar cintamu tak lekang dengan waktu yang terus  menderu. Maaf bu, aku hanya bisa memohon agar tak lagi membuatmu kepayahan, agar tak lagi muncul rintik basah kedua matamu karna aku bu, agar tak ada lengkingan amarah keluar dari bibir ibu karna aku.

Tunggu aku bu, tetaplah sehat untuk melihat Allah mengijabah doamu untukku, tetaplah sehat agar ibu bisa berceloteh bangga tentangku pada semua orang, tetaplah bersamaku bu, tetap menjadi perisai milikku walau maaf jarang terucap oleh bibirku.

Dec 16, 2012

Berbeda

Dikuncup mekar kutemukan helaan nafas panjang
Kubuka semua janji yang sedang tertutup pagi
Lega, tega beda tipis lah
Dipilinnya pagi yang sedang menjuntai malu
Tertutup embun si empu

Sudah, keburu surya beranjak naik nanti
Gandeng aku menuju peraduanmu itu
Yang katanya membuat mu lega tadi

Oh ini, dulu aku sudah pernah kesini
dengan si asa dan si harus
Berlanjut dengan tawa dan akhirnya tangis

Busuk, tempat ini busuk, kataku dulu
Eh, sekarang aku yang malu mau datang ke sini,

Dec 1, 2012

Luruskan Niat Ukhti

Telah jatuh waktunya untuk mengerti, bagaimana sejengkal langkah dan sepotong kata bisa tumbuhkan cinta. Bila hati ini telah risau dan niat pun kadang tak lurus lalu apalagi yang bisa dibanggakan dari ibadah ini. Dari yang semula benar-benar untuk lebih dekat dengan yang maha dekat kini hanya untuk mendekatkan diri pada yang belum tentu terjadi.

Tentu kata-kata ini juga untuk menasehati diri sendiri, sering diri ini lalai dan keliru merajut helai demi helai niat, contohlah hal mudah seperti yang awalnya ingin shalat di masjid untuk mendapatkan pahala berlipat ganda ini cuma dapet dag-dig-dug saja lantaran niat sudah melenceng ke ikhwan yang disebelah sana. Mungkin itulah mengapa sebab Allah perintahkan lebih baik untuk shalat di rumah saja.

Malu, malu, malu jika dibandingkan dengan keteguhan niat seorang Arab Badui satu ini yang diceritakan bahwa dirinya diberi harta ghanimah dari Rasulullah seusai perang lalu Badui itu berkata "Untuk apa ini?", Rasulpun lebih kurang menjawab "harta rampasan bahagian mu dalam perang ini", taukah apa yang badui itu katakan "aku berperang bukan untuk ini.tapi aku berperang untuk di panah di sini(di tunjukkan lehernya),lalu syahid di jalan ALLAH". Dan diperang selanjutnya Badui itu syahid karena panah tepat diagian yang ia tunjukan kepada Rasulullah. Subhanallah bukan?

Dalam sebuah hadits Rasulullah juga berucap:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya...” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim).

Yuk ukhti yuk luruskan niat bareng-bareng yuk ingetin saya juga biar bisa masuk surga sama-sama :)