Seperti berjalan dikejauhan, melihat keriput pun matanya masih terbuka lebar, jalannya yang terseok juga menunjukkan harmoninya kehidupan yang sekarang, bukan dulu, saat Ia masih muda dan menjadi bunga, sebenarnya, yang dibutuhkan bukan satu atau dua muka kencang tapi segenggam linangan perhatian
Hidup itu katanya hanya putih dan hitam, hanya gelap dan terang, bila habis gelap maka terbitlah terang, berarti ini bukan hidup bila sisanya akan selalu terang benderang, putih dan hitam juga andil dalam diri wanita renta itu, dia hanya berceloteh bahwa semuanya abu-abu, karena kini yang putih sudah ternoda dan yang hitam sering menyembunyikan diri dalam putih yang memalsukan
Bila masalah terbesarnya adalah hidup mungkin hidupnya sedang kehilangan cairan asa, bila masalah terbesarnya adalah malas berarti Tuhan benar bahwa semua juga akan sia-sia, asap kembali serbakkan kemilau jingga yang berlabuh menjadi hitam pekat, bukankah ini hidup? ternyata bukan hanya tentang putih benderang atau gelap menghitam, masih ada jingga diselanya masih tersimpan fajar di ufuknya
Nenek yang kini tinggal sendiri itu mungkin tak pernah digenggam senja hingga hidupnya abu-abu, atau mungkin dulu hidupnya penuh dengan merah, kuning, biru yang kini telah luntur dicuri waktu?