Merindu syahdu keheningan yang beradu, masih saja aku mencari senoktah ketenangan atau sepenggal guratan senyum agar kebahagiaan segera menyapa, melambaikan asa yang kepayahan mencariku, Telinga ini sepertinya teramat keruh saat Tuhan berkali-kali menyuruhku untuk terus mengingatNya agar hati ku terjaga, agar cintaNya terpelihara.
Tuhan mungkin sangat pencemburu, hingga berulang kali berbisik jangan pernah meninggalkanNya, meski hitam tengah menghujam, meski sendu beradu pilu, meski bahagiaku menggelayut syahdu.
Kadang aku berfikir Tuhan sedang sebal dengan alasan-alasan bebal saat aku enggan bercengkerama dan bermanjaan denganNya, tapi selalu saja Tuhan punya cara menyentuhku pada titik paling dalam ditempat paling menentramkan.
Meski begitu tak pandai membalas cinta kasihMu, walaupun tak cerdas dalam memenuhi hak-hak Mu, aku akan menjadi hambaMu yang selalu saja berusaha menjadikan Engkau alasan disetiap hal-hal baik, menjadikan Engkau satu-satunya yang harus dipercaya hingga kematian membawaku kembali dalam peraduan Mu.