Tersisa setitik senyum diwajah-wajah lelah, lamanya proses menjadikan kita tua dijalan yang tak mengerti bahwa aku dan kamu sempat tersandung peluh dan keluh.
Maaf bila mulutku jarang berucap manis, Maaf bila tabiatku tak nyamankan hatimu, namun aku dan kamu akan selalu menjadi kita, kita yang dulu pernah satu.
Ingatkah? dulu kamu dan aku pernah berbagi satu kertas, aku menuliskan namamu dan kamu menuliskan namaku disebuah deretan ke-panitia-an, masih ingat?
Mungkin untukmu itu sudah terlalu lama hingga waktu bosan mengingatnya. Atau kamu berniat mengingat yang ini: saat aku menghambur di bahu hangatmu karena acara kita terusik izin yang lama cair?
Masih tidak ingat apapun tentang aku dan kamu? Cobalah, ingat yang ini: saat aku bersuara keras cenderung menghardik agar kamu melakukan ini dan itu?
ahh, sekali lagi, maafkan aku bila hal terakhirlah yang paling kamu ingat, aku sebenarnya ingin memahami kamu, kamu, dan kamu satu persatu, namun begitu banyak tapi saat itu, hingga baru sekarang aku tau bahkan lebih dari tau bahwa kamu yang sebaya denganku dan kamu yang tak seberapa tahun lebih muda dariku adalah orang hebat.