Takutku bila tak sempat tuliskan saat-saat bersama kalian, beberapa kepala berbeda pemikiran yang tentunya berbeda tujuan juga, namun aku tau kita saling memangkas ego masing-masing agar tak saling menuliskan pedih mengukir sedih.
Pernah kalian melihatku menangis begitu juga aku pernah melihat kalian menangis, tentu dengan masalah yang berbeda, namun, anehnya kita bisa saling tertawa atau menertawakan hal yang sama, bahkan menertawakan satu sama lain, dan tak ada luka bila kita saling menertawai.
Bila yang satu sedang berapi-api yang lain siap menjadi air dan embun, bila yang satu sedang diam yang lain siap menjadi radio rusak tak tau letak untuk berisik, beruntungnya tak hanya ada dua kepala diantara kita, jika pecah tak ada lem diantara kita berdua, jika hampir jatuh tak ada yang rela bergelayut untuk menggapai kita.
Mungkin kita bertemu ditempat yang tak disangka namun tentu kita tak kan berakhir bila hanya terpisah jarak dan angin, hatiku sudah diikat kuat-kuat oleh Tuhan agar tak berhenti hidup bersama kalian. Ini hanya masalah waktu, bila Tuhan berkenan pasti kita akan disatukan lagi dalam tempat yang jauh lebih indah dan baik.
Sedekat itukah? iya, menurutku, lebih lagi aku berharap kalian juga.
Suatu saat nanti, saat kita sudah sama-sama besar dan hebat, saat orang tua kita sudah membanggakkan kita kesana-kemari, kita akan berkumpul dan menertawakan kisah yang ini dan itu, menertawakan kenapa dulu kita menamai seseorang dengan julukan aneh, menertawakan pertanyaan jorok saat sedang melahap makanan, menertawai foto seseorang yang terlihat tidak lucu bahkan sama sekali tidak lucu. dan menertawakan kata 'padahal' yang kita sambung dengan kalimat ambigu.